BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi 2021 di Kisaran 4,8%-5,8%
Rabu, 3 Februari 2021 | 14:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pihak Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 akan berada di kisaran 4,8% sampai 5,8%. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kondisi neraca perdagangan, proses vaksinasi, dan kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan.
"Pada tahun 2021 ini pemulihan ekonomi sedang berjalan dan ini cukup positif kami meliihat melihat pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,8%. Hal ini didukung oleh ekspor dan kondisi ekonomi global yang sudah mulai membaik," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam acara Mandiri Investment Forum pada Rabu (3/2/2021).
Inflasi ditargetkan berada pada angka 3% +/- 1%. Pemerintah terus meningkatan daya beli masyarakat sebab pada tahun 2020 lalu inflasi hanya mencapai 1,68%. Posisi defisit transaksi berjalan diperkirakan akan mencapai 1% sampai 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pada tahun 2020 defisit transaksi berjalan hanya mencapai 0,5%, BI juga memperkirakan aliran modal asing yang masuk (capital inflow) juga akan lebih besar di tahun 2020 ini.
"Kami memperkirakan portfolio yang masuk sekitar US$ 19,4 miliar, jumlah itu di itu di luar investasi asing langsung. Sebab ada dukungan dan dorongan dari pemerintah dan juga penerapan dari Undang Undang Cipta Kerja," ucapnya.
Sementara itu, Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2021 akan berada di angka 4,4% sampai 4,8%. Sedangkan pada kuartal IV 2020 pertumbuhan ekonomi selama tahun 2020 diperkirakan terkontraksi -2,1% sampai -2,2%. Di penghujung tahun 2020, muncul beberapa kabar positif yang memicu tumbuhnya sentimen positif oleh investor terhadap prospek ekonomi ke depannya, seperti hasil yang cukup baik dari pemilu Amerika Serikat dan mulai bergulirnya vaksin secara masal di seluruh dunia. Kinerja pasar keuangan dan mata uang yang sangat baik pada akhir tahun 2020 memberi kesan bahwa ekonomi semakin membaik.
"Namun, seperti yang kita semua ketahui tidak ada pemulihan ekonomi yang berkesinambungan dan berkelanjutan tanpa adanya perbaikan dari sisi kesehatan dan angka kasus harian. Kondisi Indonesia saat ini secara rapi mengilustrasikan kontradiksi ini," ucap Riefky dalam pernyataan resmi yang diterima pada Rabu (3/2/2021).
Ia mengatakan saat nilai tukar rupiah dan indeks pasar saham sedang mengalami performa terbaiknya sejak dimulainya pandemi, angka harian Covid-19 terus menunjukkan pertumbuhan kasus harian tertingginya. Kelompok masyarakat yang memiliki aset finansial mendapatkan keuntungan yang cukup tinggi sedangkan di sektor riil, dunia usaha sedang berjuang untuk menghindari kebangkrutan dan kelompok masyarakat miskin berjuang untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari hari.
"Kondisi ini menunjukkan secara jelas ironi di kondisi perekonomian belakangan ini," ucapnya
Menurutnya gangguan ekonomi yang berkepanjangan akibat pandemi Covid-19 menyebabkan rendahnya kepercayaan konsumen dan bisnis dan terjadinya penurunan pengeluaran di berbagai kategori, dengan efek spillover ke banyak sektor lainnya. Perusahaan dan beberapa institusi, termasuk sekolah dan kantor, mengambil tindakan proaktif untuk menghindari terjadinya infeksi dengan beroperasi di bawah kapasitas normal dan menerapkan pembelajaran dan pekerjaan jarak jauh.
"Penutupan bisnis baik melalui larangan pemerintah atau keputusan bisnis itu sendiri, di mana dalam banyak kasus mengakibatkan hilangnya gaji para pekerja, terutama di sektor informal di mana tidak ada cuti berbayar; akibatnya, rumah tangga memiliki pendapatan yang lebih sedikit untuk dibelanjakan," ucapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




