Valuasi GoTo Diperkirakan Tembus Rp 500 Triliun
Selasa, 18 Mei 2021 | 11:23 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan valuasi GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dan Tokopedia, di kisaran US$ 35 miliar (Rp 500 triliun) hingga US$ 40 miliar.
Niko Margaronis, analis BRI Danareksa Sekuritas, mengatakan merger GoTo menandakan era baru perusahaan rintisan (startup) dan investor mereka. Perlombaan mencari dana segar antar-startup diperkirakan akan semakin intens sehingga diperkirakan GoTo mencari pendanaan di dalam dan luar negeri, seperti AS.
"Sebelum GoTo, Gojek dan Tokopedia ada di persimpangan jalan. Bebeberapa investor sudah 10 tahun dan mencari exit strategy (menjual saham). Teknologi finansial adalah area pertumbuhan baru yang membutuhkan jalur pendanaan baru. Di saat yang bersamaan, kompetisi bisnis semakin ketat di kalangan startup besar," kata Niko.
Menurut Niko, merger GoTo adalah hal yang diperlukan mengingat persaingan semakin ketat dengan Shopee dan di segmen teknologi finansial. Shopee pay menguasai jasa pembayaran di Indonesia dan memiliki pangsa pasar yang kuat dalam hal gross market value (GMV). Di sisi lain, pemerintah terus mendorong gerakan perbankan digital demi mencapai inklusi keuangan, sementara perbankan konvensional akan semakin melindungi pangsa pasar mereka.
"Oleh karena itu, merger adalah keputusan bisnis yang sangat rasional," kata dia.
Startup-startup besar bersaing menjadi super app di tiga segmen: transportasi, marketplace, dan teknologi finansial. Untuk mengembangkan ekosistem sebuah super app membutuhkan dana besar. Valuasi GoTo kalau melakukan IPO ada di kisaran US$ 35 miliar-US$ 40 miliar. Pesaingnya, Grab, diklaim memiliki valuasi US$ 40 miliar, dan SEA Ltd dari Singapura memiliki valuasi pasar US$ 140 miliar.
Menurut BRI Danareksa, valuasi sum of the parts (SOTP) premoney (nilai saham perusahaan sebelum go public atau menerima investasi lainnya) GoTo adalah US$ 18 miliar pada 2020.
Terpisah, praktisi pasar modal sekaligus Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee mengatakan, untuk mencari pendanaan yang luas, kemungkinan GoTo melakukan dual listing. "Bagi GoTo, mereka juga punya akses ke pasar pendanaan yang luas. Bisa saja mereka dual listing, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri," kata Hans.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




