Kadin Harap Pajak Sembako Tidak Berdampak pada Sektor Perikanan
Sabtu, 19 Juni 2021 | 13:36 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Sektor berbasis sumber daya alam seperti perikanan dan akuakultur dinilai masih bisa diandalkan untuk menopang perekonomian di tengah pandemi Covid-19. Kamad Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap rencana pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) sembako untuk komoditas premium tak berdampak signifikan pada sektor perikanan.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto mengingatkan agar sektor perikanan dan akuakultur bisa dikembangkan lebih jauh. 'Kadin berharap agar pengenaan PPN sembako tidak akan terlalu berdampak kepada komoditas perikanan, karena akan memiliki efek lanjutan yang cukup serius," kaa dia dalam keterangan tertulisnya Sabtu (19/6/2021).
Dia mengatakan, pada dasarnya kenaikan PPN ini akan menaikkan variable cost perusahaan, di bagian perbekalan kapal dan konsumsi karyawan. "Nantinya akan berefek juga pada kenaikan biaya hidup karyawan, inflasi naik, UMP naik, semuanya naik," terang dia.
Tidak sampai di situ, efek lanjutan yang bisa dialami adalah terhadap nilai pendapata negara bukan pajak (PNPB) pascapanen. "Dikhawatirkan bahan baku yang dihasilkan tidak berdaya saing lagi," kata Yugi.
Menurut Yugi, pengenaan PPN sembako untuk saat ini belum begitu tepat, meski untuk komoditas premium. Pasalnya, akan mempengaruhi konsumsi dan iklim usaha komoditas. "Beberapa komoditas premium di perikanan di antaranya seperti ikan salmon, lobster," kata dia.
Dia juga berharap agar sektor perikanan dan akuakultur bisa dibangkitkan untuk menopang perekonomian, terutama daerah yang memiliki potensi.
"Kita sudah lihat data potensinya di pemerintah, di litbang, kita harapkan agar tidak menjadi sekedar catatan di atas kertas saja, tetapi bisa direalisasikan. Terlebih lagi dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, masyarakat diharapkan bisa bertahan, demikian juga pelaku usaha untuk dapat mempertahankan bisnisnya," kata dia.
Menurutnya, selain perikanan tangkap atau konvensional, masyarakat juga bisa mengembangkan bisnis akuakultur seperti budidaya ikan tawar, keramba ikan laut, budi daya udang, lobster, kerang hingga rumput laut. Hal ini diyakini bisa dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan baru di tengah sempitnya lapangan pekerjaan, terutama di daerah-daerah.
"Kami harapkan masyarakat, UMKM yang ada bisa melirik dan menggali lagi potensi daerahnya, karena sebenarnya apa yang ada di alam itu bisa bernilai ekonomi dan memakmurkan," kata Yugi.
Tidak sedikit daerah di Indonesia yang sukses dengan kinerja budidaya dan hulu-hilir industri perikanan, mulai Sulawesi Selatan yang menghasilkan ikan dari hampir seluruh kabupatennya, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Riau dan Kepulauan Riau atau tingkat Kabupaten seperti Cilacap (Jawa Tengah), Tegal (Jawa Tengah) dan Banyuwangi (Jawa Timur), dll.
Menghadapi tantangan dinamika global dan pandemi, sektor industri dan perdagangan juga diharapkan bisa mempertahankan pasar dan produktivitasnya untuk bertahan. "Pasar dalam negeri tentu harus diamankan, juga pasar luar negeri ekspornya jangan kendor," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




