IPO GoTo Kemungkinan Tahun Depan
Jumat, 20 Agustus 2021 | 11:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com -Perusahaan teknologi GoTo berencana menyelesaikan pendanaan sebelum penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sebesar US$ 2 miliar dalam beberapa minggu depan. Namun tampaknya regulator menahan GoTo untuk mencatatkan sahamnya pada tahun ini sehingga harus ditunda menjadi tahun depan.
"Penundaan ini terjadi karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempertimbangkan kebijakan baru terkait pencatatan saham perusahaan teknologi dengan konsep dual-class shares yang mengakomodir hak suara yang berbeda," jelas dua sumber berdasarkan laporan Reuters, Jumat (20/8/2021).
Sumber yang diperoleh Reuters tidak berwenang untuk berbicara kepada media. Sementara juru bicara GoTo menolak berkomentar dan tidak ada komentar langsung OJK.
Menurut sumber, aturan pencatatan saham baru berpotensi ditunda menjadi September 2021 sehingga pencatatan saham GoTo juga bisa menjadi awal tahun depan. Padahal penggalangan dana sebelum IPO menarik banyak minat hingga mencapai US$ 1,5 hingga US$ 2 miliar dan bisa diselesaikan pada bulan depan.
Adapun GoTo dibentuk melalui penggabungan perusahaan ride hailing, Gojek dengan perusahaan e-commerce, Tokopedia pada Mei 2021. GoTo berencana mencatatkan sahamnya di Indonesia dan Amerika Serikat (AS) pada akhir 2021. Valuasi GoTo pasca IPO berpotensi meningkat menjadi US$ 40 miliar.
GoTo disokong oleh banyak investor seperti Alibaba, Group Holding, Softbank Vision Fund dan Wealth Fund milik Singapura, GIC. Investor ini mendapatkan banyak manfaat dari besarnya penggunaan platform digital di tengah pembatasan kebijakan akibat pandemi Covid-19.
Sebelumnya, salah satu unicorn Indonesia, yakni PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) meraup dana IPO sebesar Rp 21,9 triliun. Penggalangan dana ini merupakan nilai IPO terbesar sepanjang sejarah bursa domestik. Nilai IPO Bukalapak menyalip nilai IPO PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pada 1995 sebesar US$ 1,7 miliar dan IPO PT Adaro Energy Tbk (ADRO) pada 2008 senilai US$ 1,28 miliar.
Kepala Divisi Layanan dan Pengembangan Perusahaan BEI, Saptono Adi Junarso menjelaskan, masuknya perusahaan-perusahaan big tech akan mengubah wajah pasar saham Indonesia. Dalam beberapa waktu mendatang, pasar saham Indonesia diprediksi mengalami metamorfosis seperti bursa Amerika 2-3 dekade silam, di mana emiten-emiten teknologi menggeser dominasi emiten non-teknologi (konvensional) dari jajaran pemuncak market cap.
Dalam hitungan BEI, kapitalisasi pasar (market cap) bursa domestik bakal bertambah Rp 553,9 triliun setelah lima unicorn (termasuk Bukalapak) dan satu decacorn (GoTo) melantai di bursa saham domestik. Empat unicorn lain yang bakal menyusul Bukalapak masih mempersiapkan diri untuk go public. Market cap bursa diprediksi akan lebih meningkat setelah lima centaur ikut menyemarakkan lantai bursa.
Di Indonesia, startup yang masuk kategori decacorn (valuasi US$ 10-100 miliar) baru satu, yaitu GoTo, perusahaan hasil merger Gojek dengan Tokopedia. Sedangkan di jajaran unicorn (valuasi US$ 1-10 miliar) ada Traveloka, Bukalapak, JD.ID, J&T Express, dan OVO. Lalu di level centaur (valuasi US$ 100 juta sampai US$ 1 miliar) ada sekitar 27 perusahaan, antara lain Halodoc, Dana, Modalku, Ralali, Akulaku, Kredivo, dan Blibli.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




