Minat Investor Tinggi, Valuasi GoTo US$ 40 Miliar Dinilai Mudah Dicapai
Rabu, 10 November 2021 | 14:33 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ekonomi digital di Indonesia selalu menjadi magnet bagi investor yang ingin menanamkan uangnya di perusahaan digital Indonesia. Salah satu perusahaan digital yang menjadi "incaran" investor asing adalah holding perusahaan Gojek dan Tokopedia yaitu GoTo.
Beberapa waktu yang lalu Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) baru menyuntikkan dana senilai US$ 400 juta atau lebih dari Rp 5,6 triliun lewat penggalangan dana pra-IPO.
Masuknya investor sebelum IPO ini berdampak positif terhadap valuasi GoTo. Bahkan, GoTo dikabarkan membidik dana investasi US$ 1,5 miliar sampai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 21,19 triliun sampai Rp 28,26 triliun.
Banyaknya dana abadi atau sovereign wealth fund (SWF) masuk ke GoTo, membuat valuasi dari Gojek dan Tokopedia mengalami kenaikan. Berdasarkaata CB Insight, valuasi GoTo di akhir tahun lalu US$ 18 miliar. Menjelang IPO dan masuknya investor dari Dubai, valuasi GoTo berdasarkan data Reuters sudah mencapai US$ 32 miliar.
Menurut Kartika Sutandi, co-founder Jarvis Asset Management, ketika GoTo hendak melakukan IPO, valuasi induk dari Gojek dan Tokopedia ini akan terus mengalami kenaikan.
Kartika memperkirakan ketika GoTo melakukan IPO, valuasi decacorn tersebut akan mencapai US$35 miliar. Bahkan, ketika sinergisitas antara Gojek dan Tokopedia ini bisa terbentuk dan GoFinance sudah mulai dijalankan, Kartika optimistis valuasi GoTo bisa mencapai US$ 40 miliar.
Apa lagi di akhir tahun lalu, PT Dompet Karya Anak Bangsa alias GoPay, yang terafiliasi dengan Gojek, telah resmi menjadi pemegang saham baru di Bank Jago dengan kepemilikan sebesar 22,16%. Diperkirakan total dana yang dikeluarkan dalam aksi korporasi ini mencapai Rp 2,77 triliun.
"Investor yang masuk ke Gojek dan Tokopedia beberapa waktu yang lalu untung besar. Salah satunya adalah Telkomsel yang akhir tahun lalu masuk ke Gojek. Jika kita asumsikan Telkomsel masuk di valuasi GoTo US$ 18 miliar, maka yield mereka 44%. Itu dalam curency dolar ya. tidak ada investasi yang bisa memberikan yield sebesar itu. Sehingga tepat bagi Telkomsel masuk di Gojek sebelum IPO GoTo," ungkap Kartika dalam keterangannya, Rabu (10/11/2021).
Jika investasi Telkomsel US$ 450 juta atau setara dengan Rp 6,5 triliun, maka dalam perhitungan Kartika, ketika GoTo IPO maka investasi yang ditanamkan di PT Karya Anak Bangsa saat ini sudah tumbuh menjadi Rp 2,8 triliun. Jumlah ini jauh lebih besar dari bisnis konektivitas yang selama ini dibangun oleh Telkom maupun Telkomsel.
"Jika dibandingkan laba Telkom tahun 2020 Rp 29,6 triliun, maka keuntungan bersih investasi Telkomsel di Gojek setara dengan 21,3% dari keuntungan Telkom. Memang investasi di perusahaan digital akan tumbuh lebih besar dari perusahaan konvensional," ungkap Kartika.
Jika Telkomsel mendapatkan keuntungan, maka ujung-ujungnya pemegang saham Telkom yang akan diuntungkan. Termasuk Negara yang memiliki saham Telkom. Menurut Kartika saat ini harga saham Telkom belum merefleksikan investasinya di Gojek. Jika sudah merefleksikan investasinya di Gojek, maka harga saham Telkom bisa 30% dari harga yang saat ini.
"Saya optimis harga saham Telkom setelah GoTo IPO kelak akan 30% dari harga sekarang. Harga saham Telkom akan terus tumbuh ketika Telkom dan Telkomsel terus investasi di perusahaan digital. Saat ini seluruh perusahaan multi nasional termasuk perusahaan telekomunikasi global berinvestasi di perusahaan digital," pungkas Kartika.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




