ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

OJK Ingin Startup dan Perusahaan Digital Makin Efisien

Jumat, 11 November 2022 | 11:09 WIB
PA
WP
Penulis: Prisma Ardianto | Editor: WBP
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar di acara 4th Indonesia Fintech Summit 2022, Kamis 10 November 2022. 
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar di acara 4th Indonesia Fintech Summit 2022, Kamis 10 November 2022.  (B Universe Photo/Prisma)

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa perusahaan rintisan (startup) dan perusahaan digital perlu meningkatkan aspek efisiensi untuk bisa bertahan di masa mendatang. Hal ini dampak pengenaan biaya murah kepada konsumen dan mengandalkan aspek pendanaan yang diterapkan selama ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan, ada tiga faktor tantangan sekaligus potensi bagi startup, khususnya perusahaan keuangan digital saat ini. Pertama, ancaman ekonomi dan keuangan global yang mendorong perusahaan mesti lebih efisien.

"Itu akan menjadi risiko besar bagi stabilitas keuangan, sebagai tanggapan atas hal ini, banyak bank sentral utama telah memperketat kebijakan moneter mereka. Memicu tekanan mata uang dan suku bunga terutama di negara berkembang," ungkap Mahendra di acara 4th Indonesia Fintech Summit 2022, Kamis (10/11/2022).

Saat ini, kata dia, kondisi itu telah mengganggu zona nyaman startup dan perusahaan digital karena terjadi dalam periode lama dan mungkin masih akan terus berlangsung. Apalagi startup, termasuk perusahaan keuangan digital kerap mengandalkan biaya rendah kepada konsumen dan jumlah modal tidak terbatas.

ADVERTISEMENT

"Akibatnya, model bisnis startup dan perusahaan yang dulunya hanya mengandalkan valuasi ekuitasnya, sekarang berusaha meningkatkan efisiensi bottom line dan mempromosikan kelayakan komersial," jelas Mahendra.

Tantangan kedua yakni peran regulator menyikapi kehadiran keuangan digital dan ekosistem fintech di Indonesia. OJK menyadari bahwa perkembangan teknologi dipercepat oleh pandemi Covid-19. Begitu juga konsumen belajar mengkonsumsi produk dan layanan berbasis digital karena pengalaman lebih personal, mudah, dan praktis, serta menjawab kebutuhan. Hal ini ditangkap lembaga jasa keuangan yang mulai melakukan transformasi digital dan mengembangkan produk dan layanan keuangan yang baru.

Alhasil, Mahendra bilang, regulator telah melihat beberapa perkembangan tantangan di sektor keuangan terkait aspek regulasi. Termasuk dari inovasi berbasis blockchain, beberapa inovasi berada di luar batas regulasi yang ada dan tidak semua inovasi termasuk dalam kategori produk atau layanan keuangan.

"Ini tekanan bagi regulator untuk mengembangkan pendekatan yang sesuai untuk mengikuti inovasi yang dinamis. Oleh karena itu, dalam kenyataan saat ini, hal terbaik yang dapat dilakukan regulator adalah menemukan keseimbangan antara mempromosikan inovasi digital dan mengurangi potensi risiko yang mungkin ditimbulkannya," ujar Mahendra.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Hadirkan Explorise Pulse 2025, MDI Ventures Perkuat Kolaborasi Startup–BUMN untuk Pertumbuhan Ekonomi Digital

Hadirkan Explorise Pulse 2025, MDI Ventures Perkuat Kolaborasi Startup–BUMN untuk Pertumbuhan Ekonomi Digital

EKONOMI
Deretan Aturan yang Dinilai Menghambat Perkembangan Ekonomi Digital

Deretan Aturan yang Dinilai Menghambat Perkembangan Ekonomi Digital

NASIONAL
Dahulu Terkenal! 10 Perusahaan Startup Ini Kini Tutup dan Gulung Tikar

Dahulu Terkenal! 10 Perusahaan Startup Ini Kini Tutup dan Gulung Tikar

EKONOMI
Pertamina Buka Peluang Mahasiswa Ikuti Program Bisnis di Luar Negeri Lewat Pertamuda Seed & Scale 2025

Pertamina Buka Peluang Mahasiswa Ikuti Program Bisnis di Luar Negeri Lewat Pertamuda Seed & Scale 2025

EKONOMI
Aplikasi Asal Indonesia Masuk 10 Startup AI Terbaik Dunia

Aplikasi Asal Indonesia Masuk 10 Startup AI Terbaik Dunia

OTOTEKNO

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon