Misteri Tragedi Air India 171 Bikin Pakar Penerbangan Geleng Kepala
Kamis, 19 Juni 2025 | 08:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Tragedi Air India masih terus menyisakan duka. Misteri penyebab jatuhnya pesawat tersebut justru membuat banyak pakar penerbangan geleng-geleng kepala.
Disebutkan BBC, Kamis (19/6/2025), peristiwa jatuhnya pesawat Air India memang membuat para analis bertanya-tanya. Apalagi pesawat tersebut hanya berada di udara kurang dari 40 detik sebelum akhirnya jatuh dan terbakar di kawasan padat penduduk Ahmedabad.
“Insiden ini langsung masuk daftar kecelakaan paling membingungkan dalam sejarah penerbangan India,” tulis BBC.
Kini, para penyelidik bekerja keras membongkar penyebab di balik tragedi ini. Mereka memeriksa puing-puing Boeing 787 Dreamliner, serta menganalisis rekaman suara kokpit dan data teknis penerbangan dari kotak hitam.
Sesuai aturan dari ICAO, organisasi penerbangan sipil internasional, laporan awal kecelakaan harus dirilis dalam 30 hari, dan laporan final idealnya selesai dalam waktu 12 bulan.

Diketahui Air India AI 171 dengan tujuan London Gatwick itu dipiloti oleh Kapten Sumeet Sabharwal dan kopilot Clive Kundar. Mereka lepas landas dari Bandara Ahmedabad pada pukul 13.39 waktu setempat, membawa 242 penumpang dan hampir 100 ton bahan bakar.
Namun, hanya beberapa detik setelah tinggal landas, terdengar panggilan darurat dari kokpit. Itulah transmisi terakhir dari Air India 171 sebelum pesawat itu kehilangan ketinggian dan menghantam daratan dalam kobaran api.
Kapten Kishore Chinta, mantan penyelidik dari Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat India (AAIB), menyebut kecelakaan ini sebagai sesuatu yang sangat tidak lazim. Menurutnya, sangat jarang sebuah pesawat yang masih dalam kendali jatuh ke tanah hanya dalam waktu kurang dari satu menit setelah lepas landas. Hingga kini, belum ada kejadian serupa yang tercatat dalam sejarah penerbangan India.
Beberapa dugaan sementara mulai muncul dalam proses penyelidikan. Ada kemungkinan mesin mati karena serangan burung atau bahan bakar yang terkontaminasi. Kondisi cuaca panas dan muatan penuh juga bisa jadi membuat flap pesawat gagal memberikan daya angkat maksimal.
Selain itu, pihak penyelidik tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan teknis dalam perawatan mesin atau bahkan kesalahan manusia yang menyebabkan suplai bahan bakar terputus secara tak sengaja.

Penyelidikan kecelakaan seperti ini melibatkan pendekatan menyeluruh, dimulai dari analisis puing-puing, pemeriksaan fisik komponen mesin seperti bilah turbin dan kabel yang hangus, hingga pencocokan data teknis dari perangkat perekam penerbangan.
Data dari Enhanced Airborne Flight Recorder milik Boeing 787 menjadi kunci penting. Perangkat ini mampu merekam percakapan di kokpit, suara latar kabin, hingga pergerakan tuas, aliran bahan bakar, dan performa mesin secara sangat detail.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




