ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Markas CDC Diberondong Tembakan, Pelaku Depresi pada Vaksin Covid-19

Minggu, 10 Agustus 2025 | 10:34 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Lubang-lubang akibat tembakan terlihat di kantor pusat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS di Atlanta.
Lubang-lubang akibat tembakan terlihat di kantor pusat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS di Atlanta. (AP/AP)

Atlanta, Beritasatu.com —  Seorang pria bersenjata melepaskan puluhan tembakan ke markas Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) di Atlanta, Georgia, pada Jumat (8/8/2025) sore waktu setempat. Aksi brutal ini menewaskan seorang polisi dan memicu kepanikan di kompleks yang menjadi pusat riset penyakit kritis tersebut.

Pelaku, Patrick Joseph White (30), diduga terobsesi pada isu vaksin Covid-19 yang diyakininya membuat depresi dan memicu keinginan bunuh diri. Menurut pejabat penegak hukum, White datang dengan lima senjata, termasuk satu senapan laras panjang. Ia sempat mencoba masuk ke kompleks CDC, namun dihentikan penjaga, lalu menembaki area tersebut dan apotek di seberang jalan.

Korban tewas, Petugas Polisi Wilayah DeKalb David Rose (33), terluka parah saat merespons insiden dan meninggal kemudian. Rose adalah mantan Marinir yang pernah bertugas di Afghanistan, lulusan akademi kepolisian Maret lalu, serta dikenal berdedikasi oleh rekan-rekannya. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak, termasuk satu yang belum lahir.

ADVERTISEMENT

Motif Pelaku 

Biro Investigasi Georgia menyebutkan bahwa ayah White menghubungi polisi dan mengidentifikasi putranya sebagai penembak. White diketahui marah atas kematian anjingnya dan kerap menyuarakan ketidakpercayaan terhadap vaksin Covid-19 kepada tetangga, meski tidak pernah diduga akan melakukan kekerasan.

Penembakan meninggalkan lubang peluru di empat gedung CDC. Ribuan karyawan sempat dikunci di dalam gedung selama berjam-jam, sebelum diizinkan pulang. Manajemen meminta staf bekerja dari rumah atau mengambil cuti pada Senin.

Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F Kennedy Jr, yang dikenal sebagai figur antivaksin, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan dukungan untuk karyawan CDC. Namun, kelompok Fired But Fighting yaitu para mantan pegawai CDC yang diberhentikan, menuduh Kennedy turut bertanggung jawab karena retorika antivaksinnya yang dinilai memicu iklim kebencian terhadap tenaga kesehatan.

Di bawah kepemimpinan Kennedy, hampir 2.000 karyawan CDC diberhentikan, dan pemerintahan Donald Trump mengusulkan pemangkasan anggaran lembaga tersebut hingga 50% serta memindahkan sebagian fungsinya. Kennedy sendiri kerap menyebut vaksin Covid-19 sebagai “malapraktik medis kriminal” bagi anak-anak dan memotong dana pengembangan vaksin sebesar USD 500 juta pada Selasa lalu.

Pascapenembakan, pimpinan CDC berencana melakukan penilaian keamanan penuh. Karyawan diminta melepas stiker parkir CDC dari kendaraan demi menghindari potensi serangan lanjutan. Seorang staf mengaku merasa seperti “sasaran empuk” saat insiden berlangsung.

Tetangga White, Nancy Hoalst, menyebut pelaku terlihat ramah dan sering membantu tetangga, namun obsesinya terhadap vaksin Covid-19 tampak jelas. “Dia yakin vaksin menyakitinya dan menyakiti orang lain,” ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon