Serangan Israel ke Qatar Picu Kemarahan Pemimpin Arab
Jumat, 12 September 2025 | 10:34 WIB
Doha, Beritasatu.com - Serangan Israel yang menargetkan para pemimpin Hamas di Doha, Qatar, memicu kemarahan besar para penguasa Arab. Beberapa bulan lalu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar sempat menyambut Presiden AS Donald Trump dengan parade kemegahan. Kini, mereka bersatu menentang aksi Israel yang dianggap melanggar hukum internasional.
Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman menyerukan “tanggapan Arab, Islam, dan internasional untuk menghadapi agresi” Israel.
Sementara itu, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan dari UEA terbang ke Qatar untuk mendukung emir yang berkuasa, sebuah pemandangan yang beberapa tahun lalu tidak mungkin terjadi karena konflik diplomatik sebelumnya.
Sheikh Mohammed menyebut serangan Israel di Qatar telah melanggar semua hukum dan norma internasional.
Serangan tersebut menargetkan para pemimpin Hamas saat mereka mempertimbangkan proposal gencatan senjata AS, menewaskan setidaknya lima anggota berpangkat rendah dan seorang anggota pasukan keamanan Qatar.
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menyebut serangan ini sebagai tindakan “teror negara” dan menuding Netanyahu melakukan “kebiadaban.” Ia juga mempertanyakan validitas upaya mediasi Qatar pascaserangan.
Trump menyadari kemarahan para pemimpin Teluk dan berjanji kepada Qatar bahwa serangan serupa tidak akan terulang. Meski demikian, dukungannya terhadap Israel dalam konflik yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 memicu kekhawatiran para negara Teluk.
Netanyahu pun mengancam akan melancarkan serangan lagi jika Qatar tetap mendukung Hamas sebagai mediator regional. Pernyataan tersebut mendapat kecaman keras dari Kementerian Luar Negeri UEA yang menegaskan agresi Israel terhadap anggota Dewan Kerja Sama Teluk merupakan serangan terhadap kerangka keamanan kolektif kawasan.
UEA, kekuatan pendorong Kesepakatan Abraham 2020 mengingatkan Israel agar tidak mencaplok wilayah Tepi Barat yang diduduki. Arab Saudi juga menegaskan hanya akan menormalisasi hubungan dengan Israel jika negara itu membuka jalan bagi Palestina merdeka di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur.
Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman menuduh Israel melakukan “genosida” dan memperkuat hubungannya dengan Iran, musuh utama Israel, sebagai bentuk strategi keamanan regional.
Serangan Israel dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan keamanan yang telah berlangsung sejak Perang Teluk 1991. Aksi ini berpotensi menghambat tercapainya kesepakatan regional baru dan menimbulkan ketidakpastian bagi pasukan AS yang ditempatkan di pangkalan Teluk.
Krisis ini menegaskan ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah, di mana konflik Israel-Hamas kini berdampak langsung pada diplomasi negara-negara Teluk dan keseimbangan kekuatan di kawasan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




