Ternyata Jam Kerja Orang Jerman Terendah di Eropa, Apa Penyebabnya?
Minggu, 14 September 2025 | 19:06 WIB
Berlin, Beritasatu.com – Dahulu dikenal sebagai bangsa pekerja keras, Jerman kini menghadapi kekhawatiran ekonomi dan krisis identitas seiring berkurangnya jam kerja warganya.
Setelah liburan musim panas di Eropa Selatan, banyak pekerja Jerman kembali ke kantor. Namun, statistik menunjukkan perubahan mencolok, rata-rata jam kerja tahunan di Jerman hanya 1.331 jam, terendah di antara 38 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD).
Sebagai perbandingan, warga Yunani bekerja rata-rata 1.898 jam setahun, Portugis 1.716 jam, dan Italia 1.709 jam.
Masalah ini tidak hanya soal jam kerja. Ekonomi Jerman terus melemah, dengan pengangguran menembus lebih dari 3 juta orang untuk pertama kalinya dalam satu dekade. Kepala ekonom ING Jerman, Carsten Brzeski, menyebut ekonomi Jerman kini lebih kecil dibanding tahun 2019, sementara Spanyol dan Yunani justru tumbuh di atas 2% tahun lalu.
“Negara-negara yang dulu kita anggap tertinggal kini menunjukkan produktivitas tinggi, sementara Jerman mengalami pertumbuhan buruk,” ujar Steffen Kampeter, Kepala Federasi Asosiasi Pengusaha Jerman
Budaya Cuti dan Kerja Paruh Waktu
Pekerja Jerman menikmati rata-rata 20 hari cuti berbayar dan 19 hari cuti sakit per tahun, naik dari 16 hari sebelum pandemi. Para ahli menilai hal ini lebih terkait perubahan budaya kerja dibanding faktor kesehatan.
Banyak pekerja memilih kerja paruh waktu, terutama perempuan. Data Uni Eropa mencatat 48% pekerja perempuan di Jerman bekerja paruh waktu pada 2023, sementara untuk ibu bekerja angkanya melonjak hingga 65%. Keterbatasan layanan penitipan anak menjadi salah satu faktor utama.
“Budaya Jerman menempatkan beban pengasuhan anak lebih besar pada perempuan, sehingga mereka kesulitan bekerja penuh waktu,” kata peneliti Jonas Jessen dari Pusat Ilmu Sosial Berlin.
Isu jam kerja menjadi kontroversi politik. Kanselir Friedrich Merz menolak eksperimen kerja empat hari seminggu yang sempat diuji 45 perusahaan Jerman tahun lalu. Meski produktivitas per jam meningkat, Merz menegaskan Jerman harus bekerja lebih keras dan efisien untuk menjaga kemakmuran.
Sementara itu, kalangan bisnis mendesak pemerintah memangkas birokrasi, memperluas imigrasi tenaga kerja, dan meningkatkan akses penitipan anak. Beberapa ekonom juga mendorong reformasi pajak agar mendorong lebih banyak perempuan bekerja penuh waktu.
Namun, hingga kini belum jelas bagaimana pemerintah akan menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan tuntutan masyarakat akan kehidupan yang lebih seimbang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




