10 Fakta Sanae Takaichi yang Jadi PM Wanita Pertama Jepang
Rabu, 22 Oktober 2025 | 11:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Jepang mencatat sejarah baru dengan terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam sejarah Negeri Sakura tersebut.
Politikus berhaluan ultrakonservatif ini resmi menggantikan Shigeru Ishiba setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen pada Selasa (21/10/2025).
Dengan dukungan koalisi antara Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Partai Inovasi Jepang (Ishin), Takaichi kini menjadi sosok yang menandai babak baru dalam politik Jepang.
Pada usia 64 tahun, Sanae Takaichi dilantik sebagai perdana menteri ke-104 Jepang setelah meraih 237 suara di Majelis Rendah.
Dalam pidato kemenangannya, ia menegaskan diri sebagai penerus politik Shinzo Ab dan berjanji menunjuk Satsuki Katayama sebagai menteri keuangan perempuan pertama Jepang.
Sosok yang kerap dijuluki Iron Lady Jepang ini dikenal tegas, berkarakter kuat, dan penuh tekad untuk membawa Jepang bangkit dari krisis kepercayaan publik dan tantangan ekonomi yang berat.
Dihimpun Beritasatu.com, berikut sejumlah fakta menarik tentang Sanae Takaichi, perempuan yang kini menjadi simbol kekuatan dan keteguhan dalam politik Jepang.
Fakta-fakta PM Jepang Sanae Takaichi
1. Bukan keluarga dinasti politik
Lahir di kota Nara, Takaichi menapaki jalur politik tanpa latar belakang keluarga berpengaruh.
Ibunya adalah seorang perwira polisi, sementara ayahnya bekerja di perusahaan otomotif.
Di tengah dunia politik Jepang yang sering didominasi oleh dinasti, ia membuktikan bahwa kerja keras dan tekad mampu membawanya hingga ke puncak kekuasaan.
2. Pernah jadi drummer musik metal
Sebelum terjun ke dunia politik, Takaichi dikenal memiliki sisi unik, ia adalah penggemar musik heavy metal dan pernah menjadi drummer.
Kegemarannya mengendarai sepeda motor dan kecintaannya pada musik keras menunjukkan kepribadian yang penuh semangat dan berani.
Setelah lulus dari Universitas Kobe, ia mendapat pengalaman politik pertamanya di Amerika Serikat sebagai staf magang untuk mantan anggota Kongres Patricia Schroeder. Pengalaman ini memperluas wawasan politiknya sebelum kembali ke Jepang.
3. Margaret Thatcher Asia
Sanae Takaichi sering dijuluki sebagai Margaret Thatcher Asia. Ia secara terbuka mengagumi mantan perdana menteri Inggris itu dan menjadikannya inspirasi.
Dengan gaya kepemimpinan tegas dan kebijakan konservatif, Takaichi menegaskan tekadnya untuk menjadi Iron Lady versi Jepang. Bahkan, sebelum wafatnya pada 2013, Takaichi sempat bertemu langsung dengan Thatcher.
4. Murid Shinzo Abe
Kedekatan Sanae Takaichi dengan mendiang Shinzo Abe menjadi salah satu pendorong utama kariernya.
Meski mulai berpolitik sejak 1993, pengaruh Abe pada tahun 2000-an membantunya menempati posisi penting dalam partai.
Ia dikenal sebagai penerus ideologi dan kebijakan Abe, terutama dalam bidang ekonomi dan keamanan nasional.
5. Pernah jadi menteri keamanan hingga menteri dalam negeri
Sepanjang karier politiknya, Takaichi telah menduduki sejumlah jabatan strategis, seperti Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi serta Menteri Keamanan Ekonomi.
Ia juga sempat dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin LDP, pada 2021 dan 2024, sebelum akhirnya memenangkan kursi perdana menteri pada 2025.
6. Ultranasionalis
Secara ideologis, Sanae Takaichi dikenal sebagai politisi ultranasionalis. Ia menganut prinsip “Japan First” dengan fokus pada kepentingan nasional dan penguatan aliansi keamanan dengan Amerika Serikat. Pandangannya yang keras dan patriotik membuatnya menjadi sosok berpengaruh di kalangan konservatif Jepang.
7. Kritikus paling keras China
Sikap keras Takaichi terhadap China sudah lama dikenal. Ia kerap menuding Beijing memperluas pengaruh militer dan ekonominya secara agresif di kawasan Asia.
Menurutnya, Jepang harus memperkuat keamanan nasional untuk menghadapi ancaman tersebut. Pandangannya ini diyakini akan memengaruhi arah diplomasi Tokyo di bawah pemerintahannya.
8. Menentang suksesi takhta kekaisaran dari perempuan
Dalam isu sosial, Takaichi memiliki pandangan yang sangat konservatif. Ia menolak ide suami istri menggunakan nama keluarga berbeda dan menentang legalisasi pernikahan sesama jenis.
Ia juga tidak mendukung suksesi tahta kekaisaran dari garis keturunan perempuan. Selain itu, ia dikenal rutin berziarah ke Kuil Yasukuni, tindakan yang sering menuai kritik dari negara-negara tetangga Asia karena situs tersebut juga menghormati penjahat perang.
9. Sanaenomics: Warisan dan inovasi ekonomi
Secara ekonomi, Takaichi melanjutkan semangat abenomics dengan versinya sendiri, yang ia sebut sanaenomics.
Kebijakan ini berfokus pada tiga pilar utama, memperkuat manajemen krisis nasional, menerapkan kebijakan fiskal ekspansif, dan memastikan stabilitas moneter.
Ia mendorong investasi besar-besaran di sektor strategis seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, dan pertahanan.
Dengan pendekatan tersebut, Takaichi berharap dapat memperkuat daya saing Jepang di tengah perlambatan ekonomi global.
10. Tantangan pertama: Kunjungan Donald Trump
Ujian pertama bagi Sanae Takaichi sebagai perdana menteri datang dari kunjungan mantan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Keduanya akan membahas isu perdagangan, pertahanan, dan kebijakan energi, termasuk desakan agar Jepang menghentikan impor energi dari Rusia.
Selain itu, investasi Jepang senilai US$ 550 miliar di Amerika Serikat akan menjadi salah satu topik utama pertemuan tersebut. Tantangan diplomatik ini akan menjadi ujian awal kepemimpinan Takaichi di panggung internasional.
Terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang menandai babak baru dalam sejarah politik negeri sakura. Dengan reputasi sebagai Iron Lady Asia, ia membawa kombinasi antara ketegasan, pengalaman, dan visi nasionalis yang kuat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




