ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Eks Menteri Energi Ukraina Ditangkap Saat Hendak Kabur

Senin, 16 Februari 2026 | 08:31 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Otoritas Ukraina menangkap mantan Menteri Energi Galushchenko saat mencoba kabur di tengah skandal korupsi senilai Rp 1,5 triliun dalam Operasi Midas.
Otoritas Ukraina menangkap mantan Menteri Energi Galushchenko saat mencoba kabur di tengah skandal korupsi senilai Rp 1,5 triliun dalam Operasi Midas. (Google)

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas keamanan Ukraina berhasil menggagalkan upaya pelarian mantan Menteri Energi, German Galushchenko, yang mencoba meninggalkan negara tersebut di tengah penyelidikan kasus korupsi besar. Galushchenko dilaporkan ditangkap oleh petugas perbatasan saat sedang berada di dalam kereta api yang menuju ke luar wilayah Ukraina. Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti destinasi akhir dari pelariannya tersebut.

Penangkapan ini merupakan babak baru dari skandal korupsi yang mengguncang pemerintahan Presiden Volodymyr Zelensky. Galushchenko sendiri telah dicopot dari jabatannya tahun lalu setelah namanya masuk dalam daftar pejabat yang diduga terlibat dalam skema penggelapan dana sebesar 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,5 triliun. 

“Kasus ini menjadi pukulan telak bagi administrasi Zelensky yang menjanjikan pemberantasan korupsi sejak awal menjabat,” tulis BBC, Senin (16/2/2026).

Biro Antikorupsi Nasional Ukraina (NABU) mengonfirmasi penangkapan tersebut dilakukan di perbatasan negara sebagai bagian dari penyelidikan yang dinamakan "Operasi Midas". Meski NABU tidak menyebutkan nama secara eksplisit dalam pernyataan resminya, berbagai media terkemuka di Ukraina telah memastikan bahwa sosok yang ditahan adalah Galushchenko.

ADVERTISEMENT

Skandal ini memiliki skala yang sangat luas hingga menyeret orang-orang terdekat presiden. Andriy Yermak, kepala staf kepresidenan sekaligus penasihat terdekat Zelensky selama perang, sempat mengundurkan diri setelah rumahnya digeledah oleh pihak berwenang. Meski begitu, baik Zelensky maupun Yermak sendiri belum dituduh melakukan kesalahan hukum secara langsung dalam kasus ini.

Penyelidikan intensif yang dilakukan selama 15 bulan oleh NABU dan Kantor Jaksa Antikorupsi Khusus (SAP) mengungkap adanya praktik suap sistematis di sektor energi. Galushchenko diduga mengumpulkan kickback atau uang pelicin dari kontraktor perusahaan nuklir nasional, Energoatom, dengan besaran 10% hingga 15% dari nilai kontrak.

Temuan yang lebih mengejutkan adalah dugaan pencucian uang hasil korupsi tersebut. Pihak berwenang menemukan bukti bahwa dana besar didepositokan ke luar negeri, termasuk ke Rusia, yang merupakan lawan perang Ukraina saat ini. NABU bahkan merilis foto-foto tumpukan uang tunai dalam tas yang diduga menjadi bagian dari barang bukti skema pencucian uang tersebut.

Penangkapan Galushchenko memicu kemarahan publik di dalam negeri. Pasalnya, skandal pengayaan diri di sektor energi ini terungkap tepat saat Rusia sedang gencar-gencarnya menyerang infrastruktur energi Ukraina. Warga Ukraina merasa dikhianati karena para pejabat justru mencuri anggaran negara di saat rakyat terancam membeku tanpa listrik di musim dingin yang ekstrem.

Dampak dari skandal ini juga merembet ke ranah politik internasional. Tekanan dari Amerika Serikat kepada Ukraina untuk segera menggelar pemilihan umum semakin menguat. Padahal, pemilu di Ukraina saat ini masih ditangguhkan sesuai konstitusi karena kondisi perang yang belum berakhir sejak invasi Rusia tahun 2022 lalu.

Saat ini, Galushchenko sedang dalam perjalanan menuju Kyiv untuk menjalani pemeriksaan intensif. Sebelumnya, ia sempat menyatakan akan membela diri dan membantah semua tuduhan yang diarahkan kepadanya. Namun, dengan adanya Operasi Midas, pihak berwenang tampaknya telah mengantongi bukti kuat untuk menyeret para pelaku ke meja hijau.

Pemberantasan korupsi menjadi syarat mutlak bagi Ukraina jika ingin mewujudkan ambisinya bergabung dengan Uni Eropa. Kasus Galushchenko ini menjadi ujian bagi ketegasan hukum di Ukraina, apakah mereka benar-benar mampu membersihkan pemerintahan dari praktik kotor di tengah situasi perang yang serba sulit.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Gyokeres Cetak Hat Trick, Swedia Selangkah Lagi ke Piala Dunia 2026

Gyokeres Cetak Hat Trick, Swedia Selangkah Lagi ke Piala Dunia 2026

SPORT
Zelenksy Ungkap Ngerinya Drone Iran Dipoles Rusia, AS-Israel Terancam

Zelenksy Ungkap Ngerinya Drone Iran Dipoles Rusia, AS-Israel Terancam

INTERNASIONAL
Seberapa Canggih Drone Interseptor Ukraina Penangkal Serangan Iran?

Seberapa Canggih Drone Interseptor Ukraina Penangkal Serangan Iran?

INTERNASIONAL
Ukraina Bantu AS Tangkal Drone Iran, Ternyata Ini 7 Motifnya

Ukraina Bantu AS Tangkal Drone Iran, Ternyata Ini 7 Motifnya

INTERNASIONAL
Ukraina Tawarkan Bantuan Lawan Drone Iran

Ukraina Tawarkan Bantuan Lawan Drone Iran

INTERNASIONAL
Jasad Ditemukan di Bali Ternyata Anak Bos Mafia Ukraina Igor Kumarov

Jasad Ditemukan di Bali Ternyata Anak Bos Mafia Ukraina Igor Kumarov

BALI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT