Cara AS dan Israel Temukan Lokasi Khamenei sebelum Serangan ke Iran
Selasa, 3 Maret 2026 | 11:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Iran diguncang peristiwa besar ketika Presiden Amerika Serikat dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat.
Pengumuman tersebut disampaikan sehari setelah serangan militer dilancarkan ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) dan kemudian dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran.
Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang menghantam ibu kota Teheran. Tidak hanya dirinya, sejumlah anggota keluarga dekat serta pengawal pribadinya juga disebut menjadi korban.
Pemerintah Iran selanjutnya menunjuk Presiden Masoud Pezeshkian bersama dua pejabat tinggi lainnya untuk memimpin pemerintahan dalam masa transisi pascakepergian Khamenei.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar, bagaimana Amerika Serikat dan Israel bisa mengetahui secara presisi lokasi Khamenei hingga mampu melancarkan serangan terarah? Berikut rangkaian informasi yang menjelaskan proses tersebut.
Bagaimana Cara AS dan Israel Ketahui Lokasi Khamenei?
Melansir laporan New York Times, keberhasilan operasi ini sangat berkaitan dengan kerja intelijen CIA. Menjelang rencana serangan ke Iran, badan intelijen Amerika Serikat itu memusatkan perhatian pada target paling krusial, Ayatollah Ali Khamenei.
Selama berbulan-bulan, CIA memantau pergerakan dan pola aktivitas Khamenei. Seiring waktu, tingkat keyakinan terhadap lokasi dan kebiasaan pergerakannya semakin tinggi.
Informasi penting kemudian diperoleh ketika diketahui bahwa para pejabat tinggi Iran akan menggelar pertemuan pada Sabtu (28/2/2026) pagi di kompleks kepemimpinan yang berada di pusat Teheran.
Yang paling menentukan, CIA mendapatkan kepastian bahwa Khamenei dijadwalkan hadir di lokasi tersebut. Informasi dengan tingkat akurasi tinggi ini kemudian diteruskan kepada pihak Israel.
Sumber-sumber yang mengetahui operasi tersebut menyampaikan keterangan dengan syarat anonim karena menyangkut data intelijen dan perencanaan militer yang bersifat sensitif.
Awalnya, Amerika Serikat dan Israel berencana melancarkan serangan pada malam hari dengan memanfaatkan kegelapan. Namun, setelah menerima informasi mengenai pertemuan penting di kompleks pemerintahan Teheran, kedua negara memutuskan mengubah waktu operasi.
Penyesuaian ini dilakukan untuk memaksimalkan peluang menargetkan para pejabat senior Iran sekaligus Khamenei dalam satu momentum. Keputusan tersebut membuka peluang bagi tercapainya hasil yang cepat dan signifikan, melumpuhkan jajaran elite kepemimpinan Iran dalam satu rangkaian serangan.
Langkah ini mencerminkan koordinasi erat serta pertukaran intelijen yang intens antara Amerika Serikat dan Israel. Selain itu, operasi tersebut juga menunjukkan kedalaman pemetaan intelijen terhadap struktur kepemimpinan Iran, terutama setelah perang 12 hari yang terjadi tahun sebelumnya.
Pertemuan yang menjadi sasaran serangan berlangsung di kompleks yang menaungi kantor kepresidenan Iran, kantor pemimpin tertinggi, serta Dewan Keamanan Nasional Iran.
Berdasarkan penilaian Israel, sejumlah pejabat pertahanan dan keamanan tingkat tinggi dijadwalkan hadir. Di antaranya panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Mohammad Pakpour, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh, Laksamana Ali Shamkhani selaku kepala Dewan Militer, komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam Seyyed Majid Mousavi, Wakil Menteri Intelijen Mohammad Shirazi, serta pejabat senior lainnya.
Kronologi Serangan: Dari Lepas Landas hingga Hantaman Rudal
Operasi dimulai sekitar pukul 06.00 pagi waktu Israel ketika jet tempur diberangkatkan dari pangkalan militer. Jumlah pesawat yang digunakan relatif terbatas, namun masing-masing dipersenjatai amunisi jarak jauh dengan tingkat presisi tinggi.
Sekitar dua jam lima menit setelah lepas landas, tepatnya pukul 09.40 pagi waktu Teheran, rudal jarak jauh menghantam kompleks tersebut.
Pada saat itu, para pejabat senior keamanan nasional Iran berada di salah satu gedung di dalam kompleks, sementara Khamenei berada di bangunan lain yang letaknya berdekatan.
Seorang pejabat pertahanan Israel menyatakan bahwa serangan dilakukan secara simultan di beberapa titik di Teheran, termasuk lokasi berkumpulnya tokoh-tokoh senior politik dan keamanan Iran.
Meski Iran disebut telah melakukan persiapan menghadapi kemungkinan perang, Israel mengklaim berhasil menciptakan kejutan taktis dalam operasi tersebut. Gedung Putih dan CIA menolak memberikan komentar resmi terkait detail operasi.
Dampak Langsung dan Serangan Lanjutan
Kantor berita negara Iran, Irna, pada Minggu (1/3/2026) mengonfirmasi kematian dua pemimpin militer tingkat tinggi yang sebelumnya diklaim Israel tewas pada Sabtu (28/2/2026), yakni Laksamana Ali Shamkhani dan Jenderal Mohammad Pakpour.
Sumber yang mengetahui operasi tersebut menggambarkan keberhasilan ini sebagai hasil kombinasi intelijen yang matang dan persiapan berbulan-bulan.
Juni tahun lalu, saat pembahasan mengenai kemungkinan serangan terhadap target nuklir Iran berlangsung, Presiden Amerika Serikat saat itu pernah menyatakan bahwa pihaknya mengetahui lokasi persembunyian Khamenei dan memiliki kemampuan untuk menargetkannya.
Menurut mantan pejabat Amerika Serikat, informasi tersebut bersumber dari jaringan intelijen yang sama yang kemudian digunakan dalam operasi terbaru ini. Seiring waktu, kualitas dan kedalaman data yang diperoleh semakin meningkat.
Selama perang 12 hari sebelumnya, Amerika Serikat mempelajari pola komunikasi dan pergerakan Khamenei serta Korps Garda Revolusi Islam ketika berada dalam tekanan. Pengetahuan itu kemudian dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan pelacakan dan memprediksi langkah Khamenei.
Selain itu, Amerika Serikat dan Israel juga berhasil mengumpulkan informasi rinci mengenai lokasi para perwira intelijen utama Iran. Dalam serangan lanjutan setelah pengeboman kompleks kepemimpinan, lokasi tempat para pemimpin intelijen menginap turut menjadi target.
Meskipun pejabat intelijen tertinggi Iran dilaporkan berhasil melarikan diri, jajaran senior badan intelijen negara tersebut mengalami kerusakan besar akibat operasi itu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




