Babak Baru Perang dengan AS, Iran Kini Incar Markas Apple dan Google!
Rabu, 1 April 2026 | 16:42 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perang Amerika Serikat (AS) dan Iran terus berkembang ke fase yang semakin berbahaya. Ketegangan antara Iran melawan aliansi AS dan Israel tidak lagi terbatas pada medan tempur konvensional.
Sejak serangan awal pada akhir Februari 2026, konflik meluas ke sektor energi, infrastruktur, hingga teknologi global. Situasi ini memperlihatkan perubahan besar dalam pola peperangan modern yang kini menyentuh aspek digital dan industri teknologi.
Perkembangan terbaru menunjukkan eskalasi signifikan. Iran melalui pasukan elite Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengeluarkan ancaman terbuka terhadap perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.
Nama-nama besar, seperti Apple dan Google disebut sebagai target sah dalam konflik yang disebut sebagai perang teknologi tingkat tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita Tasnim dan dilaporkan oleh Al Jazeera.
IRGC menyatakan akan mulai menargetkan perusahaan teknologi AS yang beroperasi di kawasan tersebut mulai pukul 20.00 waktu setempat pada Rabu (1/4/2026). Peringatan juga ditujukan kepada karyawan dan warga yang berada di sekitar fasilitas perusahaan agar segera mengungsi.
Langkah ini menandai babak baru dalam konflik, di mana perusahaan teknologi global untuk pertama kalinya secara eksplisit masuk dalam daftar target serangan.
Alasan Perusahaan Teknologi Ikut Disasar
Iran menilai perusahaan teknologi memiliki peran dalam mendukung operasi militer yang dijalankan oleh Amerika Serikat dan Israel. Beberapa alasan utama yang disampaikan, meliputi:
- Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan cloud computing untuk analisis intelijen militer.
- Penggunaan sistem digital dalam penentuan target serangan.
- Pengolahan data pengintaian dalam skala besar.
Selain itu, infrastruktur seperti pusat data (data center) dianggap sebagai bagian penting dalam sistem perang modern. Iran melihat perusahaan teknologi sebagai bagian dari mesin perang digital Barat.
Ancaman ini berkaitan langsung dengan operasi militer yang dipimpin Israel dengan dukungan intelijen Amerika Serikat. Iran menyatakan langkah balasan akan dilakukan jika kembali terjadi pembunuhan terhadap pemimpin negara melalui serangan terarah.
Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan Pemerintah AS dan perusahaan teknologi dinilai mengabaikan peringatan untuk menghentikan operasi yang menargetkan pejabat tinggi Iran.
Ketegangan meningkat setelah serangkaian serangan intensif dalam beberapa minggu terakhir. Laporan dari The Washington Post menyebut lebih dari 250 pejabat senior Iran menjadi korban, termasuk tokoh penting di struktur kepemimpinan.
Serangan tersebut melibatkan penggunaan platform kecerdasan buatan canggih untuk melacak target secara presisi. Situasi ini memperlihatkan pergeseran konflik menuju peperangan berbasis teknologi tinggi yang menggabungkan kekuatan militer dengan sistem digital.
Daftar Perusahaan yang Masuk Target Iran
Ancaman Iran tidak hanya ditujukan kepada Apple dan Google. Lebih dari 15 perusahaan besar masuk dalam daftar target, termasuk Apple, Google (Alphabet), Microsoft, Meta, Intel, IBM, Tesla, Nvidia, dan Boeing.
Perusahaan-perusahaan ini dinilai memiliki keterkaitan dengan pengembangan teknologi militer, kecerdasan buatan, serta sistem pengawasan yang digunakan dalam konflik.
Perang AS dan Iran kini tidak lagi sekadar konflik militer tradisional. Perkembangan terbaru menunjukkan perluasan medan konflik ke sektor teknologi global, menjadikan perusahaan-perusahaan besar sebagai bagian dari target strategis.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




