AS-Iran Berdamai, Ini Posisi Terkini 2 Kapal Pertamina di Selat Hormuz
Kamis, 9 April 2026 | 11:57 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Optimisme akan pulihnya jalur perdagangan global melalui Selat Hormuz tampaknya masih jauh dari kenyataan, meskipun kesepakatan gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran telah resmi dimulai sejak Selasa, 7 April 2026. Data terbaru dari situs pelacak Hormuz Strait Monitor menunjukkan bahwa jalur strategis tersebut masih lumpuh.
Hingga hari ini, Kamis (9/4/2026), dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni VLCC Pertamina Pride dan MT Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di perairan Teluk Persia dan belum bisa melintasi Selat Hormuz.
Dalam penelusuran di situs Marine Traffic, MT Gamsunoro masih tertahan di sekitaran Dubai, Uni Emirat Arab dan belum bergerak melintasi Selat Hormuz sejak pertama kali berangkat pada 14 Maret 2026 lalu. Sementara, VLCC Pertamina Pride justru masih ada di sekitaran Al Jubail, Arab Saudi.
Berdasarkan data operasional terkini, yang dicatat Hormuz Strait Monitor, harapan bahwa Iran akan segera membuka penuh gerbang Hormuz pasca-kesepakatan yang dimediasi Pakistan tersebut memang belum terlihat di lapangan. “Saat ini hanya tercatat 2 hingga 3 kapal yang melintas per hari (hanya 4,9% dari kapasitas normal harian sebanyak 60-120 kapal),” tulis Hormuz Strait Monitor.
Hormuz Strait Monitor mengonfirmasi bahwa industri masih dalam posisi wait-and-see karena ketidakjelasan protokol transit dari otoritas Iran. Situasi kian pelik setelah adanya laporan serangan udara Israel ke Lebanon pada 8 April yang sempat memicu penghentian kembali aktivitas pelayaran.
Ketertahanan kapal-kapal tanker ini bukan tanpa konsekuensi. Hormuz Strait Monitor menyebut ada beberapa tekanan tekanan ekonomi yang harus dihadapi seperti premi risiko perang melonjak hingga 6,7x lipat dari tarif normal hingga harga minyak mentah dunia bertahan di angka US$ 127,61 per barel, memaksa pemerintah menghitung ulang penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.
“ Jika jalur ini tetap buntu, pengalihan rute melalui Tanjung Harapan akan memakan waktu tambahan 14 hari dengan pembengkakan biaya bahan bakar mencapai US$ 350.000 per kapal,” sebut Hormuz Strait Monitor.
Saat ini, ratusan kapal tanker dari berbagai negara masih menunggu kepastian di mulut Selat Hormuz. Negosiasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada 12 April mendatang diharapkan menjadi titik terang bagi pembebasan kapal-kapal kargo, termasuk milik Indonesia, agar stabilitas energi nasional tetap terjaga di tengah sisa-sisa bara konflik Timur Tengah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




