Selat Hormuz Disebut Salah Satu Keajaiban Geologis, Apa Alasannya?
Jumat, 10 April 2026 | 13:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia. Sekitar seperempat perdagangan minyak global yang diangkut melalui laut melintasi perairan sempit ini.
Dengan lebar sekitar 48 km yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik sempit (chokepoint) paling krusial dalam sistem pelayaran internasional.
Namun, nilai penting Selat Hormuz tidak hanya terletak pada perannya dalam ekonomi global. Wilayah ini juga menyimpan keunikan geologis yang luar biasa. Bahkan, seorang ahli menyebut Selat Hormuz sebagai salah satu keajaiban geologi karena memperlihatkan langsung hasil tabrakan dua benua.
"Selat Hormuz merupakan salah satu keajaiban geologi. Selat ini adalah salah satu tempat di Bumi di mana Anda dapat melihat tabrakan dua benua," kata Mike Searle, profesor ilmu bumi di Worcester College, Universitas Oxford.
Fenomena tersebut dapat diamati dari bentang alam di sekitarnya, mulai dari Pegunungan Zagros di Iran selatan hingga Semenanjung Musandam di Oman yang menjorok tajam ke arah utara seperti belati.
Keunikan Geologi di Sekitar Selat Hormuz
Keistimewaan Selat Hormuz tercermin dari lanskap di kedua sisinya. Pada bagian utara, Pegunungan Zagros memperlihatkan lapisan batuan sedimen seperti batu pasir, serpih, dan batu kapur yang tersusun secara dramatis akibat tekanan tektonik.
Menurut Mark Allen, kepala departemen ilmu bumi di Durham University, kawasan ini menjadi salah satu lokasi terbaik di dunia untuk mempelajari struktur geologi dalam skala besar.
"Zagros telah lama dianggap sebagai surga bagi ahli geologi struktural," jelasnya. Ia menambahkan bahwa struktur batuan di kawasan ini begitu jelas hingga dapat diamati bahkan melalui citra satelit.
Sementara itu, pada sisi selatan, Semenanjung Musandam menawarkan pemandangan yang tak kalah unik. Wilayah ini dikenal dengan tebing batu hitam yang curam serta garis pantai bergerigi yang terbentuk dari lembah-lembah yang terendam air laut.
Fenomena tersebut dikenal sebagai muara, yaitu lembah sungai yang terendam akibat kenaikan permukaan laut. Selain itu, kawasan ini juga menjadi lokasi langka di mana batuan ophiolite dapat ditemukan dalam kondisi terekspos dengan jelas di permukaan.
Bagaimana Selat Hormuz Terbentuk?
Secara umum, selat adalah perairan sempit yang menghubungkan dua badan air yang lebih besar. Banyak selat terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun akibat pergerakan lempeng tektonik dan perubahan permukaan laut.
Dalam kasus Selat Hormuz, proses pembentukannya dimulai sekitar 35 juta tahun lalu akibat tabrakan antara lempeng Arab di selatan dan lempeng Eurasia di utara.
Amy McKeever menuliskan bahwa pada masa itu, kedua lempeng tersebut dipisahkan oleh samudra purba Tethys. Seiring waktu, lempeng Arab bergerak ke arah utara dan menyusup ke bawah lempeng Eurasia dalam proses yang disebut subduksi.
Proses ini secara perlahan menutup Samudra Tethys hingga kedua daratan akhirnya menyatu. Namun, tabrakan benua bukanlah peristiwa yang berlangsung singkat.
"Dan hal yang menarik tentang tabrakan benua adalah bahwa tabrakan tersebut tidak berakhir dalam sekejap," kata Allen.
"Kekuatan mendalam yang menyebabkan lempeng-lempeng bergerak masih dapat beroperasi bahkan setelah benua-benua ini disatukan selama puluhan juta tahun," jelasnya.
Ketika tekanan terus berlangsung, kedua lempeng mengalami pemendekan dan penebalan. Proses ini dianalogikan seperti tabrakan dua mobil yang menyebabkan bagian tertentu terlipat dan menumpuk.
Akibatnya, terbentuklah Pegunungan Zagros di wilayah Iran saat ini. Selain itu, pergerakan tersebut juga menciptakan cekungan besar di lempeng Arab. Cekungan ini kemudian berkembang menjadi Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Perubahan besar lainnya terjadi sekitar 20.000 tahun lalu saat periode Last Glacial Maximum. Pada masa itu, permukaan laut jauh lebih rendah sehingga wilayah Teluk Persia relatif dangkal.
Menurut Allen, pada beberapa titik bahkan memungkinkan untuk berjalan melintasi area tersebut.
Namun, mencairnya lapisan es global menyebabkan kenaikan permukaan laut sekitar 100 meter dalam kurun waktu 15.000 tahun. Air laut kemudian menggenangi wilayah tersebut, termasuk lembah-lembah sungai seperti Tigris dan Eufrat yang turut mengisi kawasan Selat Hormuz.
Proses ini membentuk lanskap perairan yang kita kenal saat ini.
Keindahan geologi Selat Hormuz juga menyimpan potensi kerentanan. Proses tektonik yang membentuk kawasan ini masih berlangsung hingga sekarang, meskipun dalam skala waktu geologis.
Pada wilayah Zagros, gaya tektonik terus menekan dan menebalkan kerak bumi, menciptakan struktur lipatan yang kompleks. Selain itu, kawasan ini juga dikenal memiliki fenomena gletser garam dan kubah garam.
Fenomena tersebut terjadi ketika lapisan garam dari dalam bumi terdorong ke permukaan melalui celah-celah batuan.
"Di beberapa tempat, garam itu benar-benar mengalir menuruni lereng bukit seperti gletser batuan," jelas Allen.
Pada sisi lain, Semenanjung Musandam yang merupakan bagian dari Pegunungan Al Hajar terbentuk dari kerak samudra purba yang terdorong ke daratan.
Proses ini dikenal sebagai obduksi dan terjadi antara 95 hingga 60 juta tahun lalu pada periode Kapur Akhir.
Menariknya, pergerakan geologis di kawasan ini belum berhenti. Studi yang dilakukan Searle dan timnya pada 2014 menunjukkan bahwa Semenanjung Musandam masih bergerak ke arah utara menuju Pegunungan Zagros.
"Dan Selat Hormuz akan secara bertahap tertutup," kata Searle. Meski demikian, proses tersebut diperkirakan baru akan terjadi dalam jutaan tahun ke depan.
Peran Penting dalam Energi Global
Selain keunikan geologinya, Selat Hormuz memiliki peran vital dalam distribusi energi dunia. Cadangan minyak dan gas dalam jumlah besar di kawasan Timur Tengah terbentuk akibat proses geologi yang sama.
Selama ratusan juta tahun, wilayah lempeng Arab berada di bawah laut dan mengumpulkan material organik yang kemudian berubah menjadi hidrokarbon.
Ketika terjadi tabrakan lempeng, kantong-kantong minyak dan gas ini terperangkap di bawah lapisan batuan dan membentuk ladang energi raksasa yang kini tersebar di Iran, Irak, dan sebagian Suriah.
"Yang khas dari Timur Tengah adalah skalanya yang sangat besar," ujar Allen. Ia menekankan bahwa ukuran cadangan yang besar membuat eksploitasi energi di kawasan ini menjadi sangat efisien secara ekonomi.
Namun, seluruh distribusi energi tersebut sangat bergantung pada Selat Hormuz sebagai jalur utama pengiriman.
Gangguan di kawasan ini terbukti dapat berdampak langsung pada ekonomi global, seperti yang terjadi sejak akhir Februari 2026 akibat konflik di Timur Tengah.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran penting, melainkan juga salah satu kawasan geologi paling menakjubkan di Bumi. Proses tabrakan lempeng yang masih berlangsung, lanskap unik, serta kekayaan sumber daya energi menjadikannya wilayah dengan nilai ilmiah dan strategis yang luar biasa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




