ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

IMF: Perang AS-Iran Picu Tekanan Ekonomi Global

Rabu, 15 April 2026 | 13:16 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Ilustrasi Ekonomi Global
Ilustrasi Ekonomi Global (Gemini AI)

Washington DC, Beritasatu.com - International Monetary Fund (IMF) menyatakan dampak konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah mulai dirasakan oleh perekonomian global, bahkan jika perang dihentikan dalam waktu dekat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Pertemuan Musim Semi IMF yang tengah berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat. Dalam laporan terbarunya, IMF menilai kerusakan terhadap ekonomi dunia sudah terjadi dan berpotensi memburuk jika konflik berlanjut.

IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tetap akan mengalami perlambatan, meskipun perang berakhir saat ini. Namun, dampaknya disebut masih relatif terbatas dalam skenario tersebut.

ADVERTISEMENT

Sebaliknya, jika konflik terus bereskalasi, kerusakan infrastruktur meningkat, dan perang berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya akan jauh lebih serius. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat melambat hingga sekitar 2% pada tahun ini.

Selain itu, tekanan inflasi global juga diprediksi meningkat signifikan. IMF memperingatkan tingkat inflasi dunia berpotensi melampaui 6% pada tahun depan apabila ketegangan geopolitik tidak segera mereda.

Dampak ekonomi dari konflik ini tidak akan merata di seluruh negara. IMF menilai negara-negara penghasil minyak di kawasan Timur Tengah akan menghadapi tekanan yang sangat besar, terutama akibat gangguan produksi dan distribusi energi.

Sementara itu, negara berkembang diperkirakan akan merasakan dampak yang lebih berat dibandingkan negara maju, seperti Amerika Serikat (AS). Para ekonom IMF menyebut tekanan ekonomi di negara berkembang bisa hampir dua kali lebih besar.

Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ruang fiskal, ketergantungan pada impor energi, serta kerentanan terhadap gejolak harga komoditas global.

Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan jalur strategis, seperti Selat Hormuz, juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi dunia. Kondisi ini dapat memicu lonjakan harga minyak dan berdampak langsung pada biaya produksi serta inflasi global.

IMF menegaskan, stabilitas geopolitik menjadi faktor kunci dalam menjaga pemulihan ekonomi dunia yang saat ini masih rentan pascapandemi dan di tengah tekanan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

'Menuju Indonesia Bangkrut', Dejavu 1998: Mengapa Mahasiswa Turun ke Jalan?

'Menuju Indonesia Bangkrut', Dejavu 1998: Mengapa Mahasiswa Turun ke Jalan?

NASIONAL
Desakan IMF Bikin Sri Lanka Naikkan Harga BBM 6 Persen

Desakan IMF Bikin Sri Lanka Naikkan Harga BBM 6 Persen

INTERNASIONAL
IMF Setuju Cairkan Utang Rp 17 Triliun untuk Argentina

IMF Setuju Cairkan Utang Rp 17 Triliun untuk Argentina

INTERNASIONAL
IMF Peringatkan Serangan Siber AI Bisa Picu Krisis Keuangan Global

IMF Peringatkan Serangan Siber AI Bisa Picu Krisis Keuangan Global

OTOTEKNO
Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

Indef: Optimisme Fiskal Harus Diiringi Konsolidasi Nyata

EKONOMI
Bertemu IMF dan World Bank, BI Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas

Bertemu IMF dan World Bank, BI Tegaskan Komitmen Jaga Stabilitas

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon