Kisah Pelaut RI yang Terjebak di Hormuz, Hadapi Ancaman dan Kekurangan
Senin, 27 April 2026 | 18:00 WIB
New Delhi, Beritasatu.com - Sekitar 20.000 pelaut dari berbagai negara termasuk dari Indonesia terjebak di Teluk Arab selama berminggu-minggu akibat konflik Iran-AS yang membuat Selat Hormuz tidak dapat dilalui. Mereka menghadapi ancaman serangan drone, rudal, serta keterbatasan logistik di tengah ketidakpastian.
Seorang perwira utama asal Indonesia, Reza Muhammad Saleh mengatakan kapalnya terdampar di lepas pantai Oman selama lebih dari sebulan. Ia mengungkapkan beberapa insiden ledakan drone terjadi di dekat pelabuhan.
“Masalah terbesar adalah ketidakpastian. Kami tidak tahu kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali,” ujarnya.
Ia juga menyebut gangguan GPS memaksa awak kapal menggunakan navigasi manual, meningkatkan risiko pelayaran di tengah situasi berbahaya.
Sementara kapten kapal tanker asal India, Rahul Dhar mengatakan, dirinya dan awak kapal telah terdampar selama hampir delapan minggu. Mereka bahkan beberapa kali menyaksikan ledakan drone dan pencegatan rudal di sekitar kapal.
“Kami mencoba menjaga situasi tetap normal, tetapi ketegangan jelas terasa,” kata Dhar kepada Associated Press.
Ia menambahkan, komunikasi dengan keluarga menjadi satu-satunya penopang mental awak kapal.
Gencatan senjata antara AS dan Iran sempat memunculkan harapan, tetapi belum ada kepastian kapan Selat Hormuz kembali dibuka. Jalur ini sangat vital karena biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan hanya sekitar 80 kapal melintasi selat pada pertengahan April, jauh di bawah rata-rata normal lebih dari 130 kapal per hari sebelum konflik. PBB juga melaporkan sedikitnya 10 pelaut tewas sejak perang dimulai.
Banyak pelaut mengalami kondisi sulit, termasuk kekurangan makanan dan air minum. Manoj Kumar Yadav dari Serikat Pelaut Maju India menyebut ribuan pelaut hidup dalam ketakutan dan isolasi.
“Mereka menyaksikan ledakan dari dek kapal. Banyak yang baru pertama kali berlayar di kondisi seperti ini,” ujarnya.
Gangguan komunikasi memperburuk situasi. Akses internet tidak stabil, dan pelaut harus membayar mahal untuk sekadar menghubungi keluarga selama beberapa menit.
India, sebagai salah satu pemasok tenaga kerja maritim terbesar, memiliki lebih dari 20.000 warganya di wilayah tersebut. Pemerintah India menyebut sedikitnya 2.680 pelaut telah berhasil dievakuasi sejak konflik dimulai.
CEO Fleet Management Limited, Kapten Rajalingam Subramaniam, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi kapal dan awak secara intensif. Namun, pergantian awak kapal sangat terbatas karena risiko tinggi.
“Awak kapal berhak menolak bertugas di zona konflik, dan kami menghormati itu,” katanya.
Beberapa kapal yang mencoba melintas saat gencatan senjata dilaporkan ditembaki atau terpaksa berbalik. Banyak perusahaan pelayaran memilih menahan kapal demi keselamatan awak.
Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd menyebut sekitar 150 pelautnya terjebak di enam kapal di sekitar selat. “Ini adalah minggu-minggu yang sulit,” kata juru bicara Nils Haupt.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) mendesak pembentukan koridor aman bagi kapal komersial. Namun hingga kini, risiko tetap tinggi akibat ancaman ranjau laut dan serangan militer.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menegaskan tidak ada jalur aman di Selat Hormuz saat ini. Situasi ini dikhawatirkan memperburuk krisis kekurangan pelaut global.
“Konflik berulang membuat semakin sedikit orang yang mau bekerja di laut,” kata Subramaniam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




