Pelayaran Kapal Tanker Mulai Aktif Kembali di Selat Hormuz
Sabtu, 20 Juni 2026 | 06:41 WIB
Meski aktivitas pelayaran mulai pulih, risiko keamanan masih menjadi perhatian. Joint Maritime Information Center (JMIC) yang dipimpin Angkatan Laut AS mengingatkan pelaut mengenai potensi keberadaan ranjau laut dan aktivitas operasi pembersihan yang masih berlangsung.
JMIC menyarankan kapal menghindari jalur Traffic Separation Scheme karena masih terdapat risiko ranjau. Jalur tersebut merupakan rute pelayaran internasional yang melewati perairan Iran dan Oman dan ditetapkan oleh badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 1968.
Perusahaan pialang kapal Braemar menilai masih terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai pelaku industri pelayaran.
“Risiko yang dihadapi mulai dari ancaman ranjau hingga kemungkinan kapal terjebak di kawasan Teluk jika ketegangan kembali meningkat dan Iran kembali menutup Selat Hormuz,” tulis Braemar dalam laporannya.
Braemar juga menilai kesepakatan terbaru membuka peluang bagi Iran untuk mengenakan biaya terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa bulan mendatang.
Kekhawatiran tersebut muncul setelah Iran mulai memperketat pengawasan pelayaran. Media pemerintah Iran melaporkan setiap kapal wajib berkoordinasi dengan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran sebelum melintasi jalur tersebut.
Perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey bahkan melaporkan bahwa otoritas Iran sempat memerintahkan sebuah kapal tanker berbendera Hong Kong dan kapal kargo berbendera Saint Kitts and Nevis untuk berbalik arah pada Kamis (18/6/2026).
Dalam surat edaran yang beredar di industri pelayaran, Otoritas Selat Teluk Persia (Persian Gulf Strait Authority/PGSA) menyatakan tidak ada kapal yang diperbolehkan melintas tanpa izin resmi yang diterbitkan lembaga tersebut.
PGSA juga menyebut memiliki kewenangan untuk mengenakan biaya asuransi tambahan bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, industri pelayaran internasional menolak rencana tersebut karena menganggap Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional yang tidak boleh dikenakan pungutan sepihak.
Di tengah perkembangan tersebut, sekitar 10 kapal tanker super berbendera Iran yang mengangkut hampir 20 juta barel minyak dilaporkan mulai berlayar dari kawasan Chabahar di Teluk Oman menuju Asia. Sebagian besar muatan diperkirakan akan dikirim ke kilang-kilang independen di China.
Penasihat senior kelompok pemantau United Against Nuclear Iran (UANI), Charlie Brown, mengatakan pencabutan sanksi dan kesepakatan terbaru telah mengurangi hambatan ekspor minyak Iran ke pasar internasional.
Menurutnya, isu sanksi sepihak AS yang selama ini menjadi kendala utama ekspor minyak Iran kini tidak lagi menjadi hambatan seperti sebelumnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
BNN Minta Kemenkomdigi Blokir Situs Terindikasi Kejahatan Narkotika




