ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kekeringan, Puluhan Hektare Sawah di Sidoarjo Gagal Panen

Selasa, 8 Oktober 2024 | 15:58 WIB
SW
JS
Penulis: Slamet Wibowo | Editor: JAS
Petani memanen padi yang tersisa dari lahan persawahan yang mengalami kekeringan di Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa, 8 Oktober 2024.
Petani memanen padi yang tersisa dari lahan persawahan yang mengalami kekeringan di Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa, 8 Oktober 2024. (Beritasatu.com/Slamet Wibowo)

Sidoarjo, Beritasatu.com - Puluhan hektare sawah di tiga desa di Kecamatan Tarik, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami gagal panen karena kekeringan akibat musim kemarau. Kurangnya pasokan air untuk mengairi sawah petani menjadi kendala utama.

Tiga desa yang mengalami gagal panen ini, Desa Segodobacang, Desa Banjarwungu, dan Desa Mergosari. Kondisi kekeringan ini diperparah oleh hama tikus, sehingga sawah di tiga desa tersebut mengalami gagal panen total.

Menurut Kepala Desa Segodobacang, Slamet Rianto, gagal panen yang melanda sawah petani di desanya itu disebabkan oleh kekurangan air. Dengan tidak adanya pasokan air, hama tikus dengan mudah menyerang tanaman padi milik warga petani.

ADVERTISEMENT

"Pada tahun ini, gagal panen di desa kami secara keseluruhan mencapai 70% hingga 80%, penyebab utamanya ya dari pengairan," ujar Slamet Rianto, Selasa (8/10/2024).

Rianto mengatakan, selain gagal total, sejumlah sawah yang mengalami gagal panen yang mencapai 50% hingga 80% juga terjadi di desanya. Seperti di Dusun Putuh, ada sekitar 18 hektare  sawah yang mengalami gagal panen, dan Dusun Segodo sebanyak 29 hektare  dengan mencapai kegagalan panen sekitar 80%, dan di Dusun Pulutan sebanyak 23 hektare yang mengalami gagal panen total.

"Kalau di Dusun Pulutan gagal total, bahkan untuk panen gabah satu kilo pun tidak ada," ungkap Rianto.

Menurut rencana, pihak pemerintah desa setempat akan melakukan upaya pengairan sawah dengan membuat sumur dangkal dengan melakukan pengeboran di tiap titik lokasi yang akan dijadikan sentral pengairan.

Sementara itu, Camat Tarik Hary Subagio mengatakan, kekeringan sawah di Desa Segodobacang saat ini memang menjadi salah satu perhatian pemerintah. Selain faktor musim kemarau, kondisi Desa Segodobacang yang memiliki lokasi jauh dari sungai irigasi membuat pengairan sawah menjadi terhambat.

"Kalau Segodobacang ini kan kondisi letaknya ada di wilayah timur, sedangkan kalau di daerah barat airnya masih lebih tersedia  karena dekat dengan irigasi," kata Hary.

Hary menjelaskan, air dari hulu sungai irigasi untuk sampai ke sawah di Desa Segodobacang itu membutuhkan waktu sekitar dua jam. Jika air dialirkan ke sawah di Segodobacang, terjadi banyak kendala di tengah perjalanan karena desa lain juga banyak yang membutuhkan air. 

"Jadi pada saat musim kemarau kondisinya ya seperti ini," terang Hary.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BPBD Lumajang Siaga Mobil Tangki Hadapi Kemarau Panjang Akibat El Nino

BPBD Lumajang Siaga Mobil Tangki Hadapi Kemarau Panjang Akibat El Nino

JAWA TIMUR
BMKG Ingatkan El Nino Bisa Picu Panas Ekstrem dan Kekeringan 2026

BMKG Ingatkan El Nino Bisa Picu Panas Ekstrem dan Kekeringan 2026

EKONOMI
Siklus Air Global Kacau, WMO: Banjir dan Kekeringan Makin Ekstrem

Siklus Air Global Kacau, WMO: Banjir dan Kekeringan Makin Ekstrem

INTERNASIONAL
Musim Kemarau, BMKG Sebut 5 Kabupaten Ini Sudah Mulai Kekeringan

Musim Kemarau, BMKG Sebut 5 Kabupaten Ini Sudah Mulai Kekeringan

NUSANTARA
BPBD Pandeglang Antisipasi Bencana Kekeringan dan Kebakaran

BPBD Pandeglang Antisipasi Bencana Kekeringan dan Kebakaran

BANTEN

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon