Polemik Kereta Cepat Whoosh, Ini Kata Jokowi
Senin, 27 Oktober 2025 | 15:35 WIB
Solo, Beritasatu.com- Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) buka suara terkait polemik kereta cepat Whoosh. Ia mengatakan, latar belakang pengadaan proyek senilai Rp 120,6 triliun tersebut bertujuan untuk memindahkan pola pergerakan masyarakat dari kendaraan pribadi menjadi transportasi umum sehingga mengurangi kemacetan di Jakarta dan wilayah sekitarnya.
“Jadi kita harus tahu masalahnya dahulu. Kemacetan di Jakarta itu sudah parah dan ini sudah sejak 30 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu dan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) kemacetannya juga parah, termasuk Bandung juga kemacetannya parah,” ujarnya kepada awak media di Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (27/10/2025).
Jokowi menjelaskan, negara mengalami kerugian imbas dari kemacetan tersebut. Ia menghitung, untuk Jakarta saja sudah mengalami kerugian sekitar Rp 65 triliun dari kemacetan jalan.
“Secara itung-itungan Jakarta saja rugi Rp 65 triliun per tahun, kalau Jabodetabek plus Bandung kira-kira sudah di atas 100 triliun per tahun. Nah, untuk mengatasi itu kemudian direncanakan dibangun yang namanya MRT, LRT, kereta cepat. Sebelumnya lagi KRL, ada juga kereta bandara,” jelasnya.
Tujuannya, agar masyarakat berpindah dari transportasi pribadi baik mobil maupun sepeda motor menjadi menggunakan transportasi umum atau massal. Sehingga, kerugian yang tadi timbul akibat kemacetan di jalan bisa ditekan.
“Dan prinsip dasar transportasi umum itu adalah layanan publik. Ini yang harus dimengerti, jadi bukan untuk mencari laba. Sekali lagi, transportasi umum itu tidak diukur dari laba melainkan diukur dari keuntungan sosial, atau merupakan social return on investment,” papar Jokowi.
Adapun keuntungan sosial yang didapat bisa berupa pengurangan emisi karbon, produktivitas masyarakat menjadi lebih baik hingga polusi yang berkurang serta waktu tempuh yang berkurang, hingga multiplier effect yang dirasakan masyarakat
Jokowi mencontohkan, Whoosh menumbuhkan titik-titik pertumbuhan ekonomi yang kemudian juga menumbuhkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), warung-warung yang berjualan di titik-titik pertumbuhan ekonomi baru itu.
“Kemudian wisata di Bandung, saya kira dengan adanya Whoosh juga bisa meningkat dengan baik. Nilai properti juga naik karena adanya Whoosh. Itulah keuntungan sosial yang didapatkan dari pembangunan transportasi massal. Saya kira pemanfaatannya seperti itu. Jadi, kalau ada subsidi itu adalah investasi bukan kerugian," tandas Jokowi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




