Prabowo Dorong Energi Nabati di Papua demi Tekan Impor BBM
Selasa, 16 Desember 2025 | 19:22 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) melalui pengembangan energi nabati di Papua.
Menurut Prabowo, Papua memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas energi berbasis pertanian, salah satunya adalah kelapa sawit. Ia menyebut sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku BBM nabati seperti biodiesel B50.
"Kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit," ujar Prabowo saat memberikan arahan kepada gubernur, wali kota/bupati di wilayah Papua, serta Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Selain sawit, Prabowo juga mendorong pemanfaatan singkong dan tebu di Papua untuk dikembangkan menjadi etanol sebagai substitusi BBM fosil.
Kebijakan itu disebut sebagai bagian dari strategi besar menuju swasembada pangan dan energi nasional. Prabowo menargetkan, dalam lima tahun ke depan seluruh daerah di Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui swasembada energi.
Jika target tersebut tercapai, Prabowo meyakini negara dapat menghemat ratusan triliun rupiah yang selama ini dialokasikan untuk subsidi energi serta impor BBM dari luar negeri.
"Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam tebu, pakai tenaga surya dan tenaga air bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun?" tutur Prabowo.
Presiden mengungkapkan, setiap tahun Indonesia mengeluarkan anggaran sangat besar untuk impor BBM. Ia menilai anggaran tersebut dapat ditekan secara signifikan apabila daerah-daerah mampu memproduksi energi sendiri melalui pengembangan kelapa sawit, singkong, tebu, serta pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya dan air.
Adapun nilai impor BBM Indonesia saat ini menambus Rp 500 triliun per tahun. Prabowo menekankan, apabila impor tersebut dapat dikurangi setengahnya saja, negara berpotensi menghemat sekitar Rp 250 triliun.
"Apalagi kita bisa potong Rp 500 triliun di mana dengan jumlah itu berarti setiap kabupaten bisa punya kemungkinan bisa punya Rp 1 triliun," ucap Prabowo.
Presiden menegaskan pernyataan tersebut bukan sekadar wacana. Ia menyatakan potensi sumber daya telah tersedia, perencanaan sudah disusun, dan pemerintah berkomitmen untuk membuktikan realisasinya secara bertahap.
"Tidak bisa seketika, tetapi kita sudah mulai ke arah situ," papar Prabowo.
Kepala negara menambahkan, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mulai tahun depan Indonesia ditargetkan tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri. Hal ini seiring beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) Balikpapan per Desember 2025.
Sementara itu, dalam kurun waktu empat tahun ke depan, pemerintah juga menargetkan penghentian impor bensin secara bertahap.
Melalui penguatan energi berbasis sumber daya lokal, pemerintah berharap langkah strategis ini dapat memperkuat kedaulatan ekonomi, mengurangi ketergantungan luar negeri, serta memastikan kekayaan alam Indonesia benar-benar dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




