ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Curhat Jadi Korban AI, Prabowo: Saya Jago Nyanyi di YouTube

Rabu, 8 April 2026 | 19:23 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Presiden Prabowo Subianto memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih berserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Presiden menyampaikan bahwa rapat ini menjadi momentum untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan yang telah berjalan lebih dari satu tahun serta guna mengingatkan para pejabat mengenai berbagai ancaman global yang berpotensi memengaruhi Indonesia di antaranya krisis pangan, krisis energi, dan krisis air.
Presiden Prabowo Subianto memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih berserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Presiden menyampaikan bahwa rapat ini menjadi momentum untuk mengevaluasi kinerja pemerintahan yang telah berjalan lebih dari satu tahun serta guna mengingatkan para pejabat mengenai berbagai ancaman global yang berpotensi memengaruhi Indonesia di antaranya krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. (Antara Foto/Galih Pradipta)

Jakarta, Beritasatu.com -  Presiden Prabowo Subianto menceritakan dirinya menjadi korban teknologi kecerdasan buatan (AI), yang dapat memanipulasi suara dan penampilan seolah-olah dirinya mampu berbicara dalam berbagai bahasa seperti Arab hingga bernyanyi dengan baik.

"AI bisa membuat seseorang bicara yang dia tidak bicara. Saya sering loh," kata Prabowo saat memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih berserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026) 

Prabowo menemukan konten di platform berbagi video yang menampilkan dirinya bernyanyi dengan suara yang bagus, meskipun dirinya mengaku tidak memiliki kemampuan tersebut. "Saya ini suaranya jelek, saya tidak bisa nyanyi. Tetapi ada di YouTube saya bisa nyanyi, suaranya bagus banget. Saya saja kaget," tutur Presiden.

Selain itu, Prabowo juga mendapati konten yang menggambarkan dirinya berpidato dalam bahasa Mandarin dan bahasa Arab, yang dibuat menggunakan teknologi serupa. Presiden mengungkapkan bahwa fenomena tersebut sempat dianggap menguntungkan dalam konteks tertentu, sehingga tidak selalu langsung ditanggapi.

ADVERTISEMENT

"Ada lagi, saya berpidato dalam bahasa Mandarin, ya kan. Ada lagi saya berpidato dengan bahasa Arab, luar biasa. Karena waktu itu kampanye, saya kira kalau di daerah-daerah tapal kuda ini mungkin menguntungkan, jadi saya diam juga. Kalau Menguntungkan kita diam," kata Prabowo seraya tertawa.

Dia menilai bahwa perkembangan teknologi seperti AI perlu menjadi perhatian karena dapat digunakan untuk memproduksi konten yang tidak sesuai dengan kenyataan. Presiden Prabowo menyebutkan bahwa penyebaran hoaks dan fitnah melalui media sosial berpotensi merusak suatu negara, terutama dengan dukungan perkembangan teknologi digital.

"Dahulu kirim pasukan, kirim bom, sekarang tidak perlu. Mungkin dengan permainan sosmed, dengan fitnah, hoaks," katanya.

Presiden menjelaskan bahwa kemajuan teknologi, AI, dan sistem informatika digital juga memungkinkan seseorang memiliki banyak akun dalam jumlah besar. Dengan dukungan perangkat yang relatif tidak terlalu mahal, akun-akun tersebut dapat diperbanyak, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah berasal dari banyak pihak.

Dia mengungkapkan kondisi tersebut dapat menciptakan efek gema atau echo chamber yang mampu memperbesar suatu isu hingga terlihat masif, meskipun pada awalnya hanya berasal dari kelompok kecil.

"Jadi yang agak repot mungkin 100 orang, 200 orang, mungkin 1.000 orang, mungkin 5.000 orang bisa bikin heboh. Nah ini namanya echo chamber. Ada ini dalam pembelajaran intelijen, ini ada, bagaimana merusak sebuah negara lain," kata Prabowo.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Perusahaan AI Elon Musk Digugat 10.000 Warga karena Polusi Suara

Perusahaan AI Elon Musk Digugat 10.000 Warga karena Polusi Suara

OTOTEKNO
China Gelontorkan Rp 5,3 Kuadraliun demi Bangun Pusat Data AI Nasional

China Gelontorkan Rp 5,3 Kuadraliun demi Bangun Pusat Data AI Nasional

INTERNASIONAL
Lintasarta Kenalkan Intelligent Core untuk Percepat Adopsi AI

Lintasarta Kenalkan Intelligent Core untuk Percepat Adopsi AI

OTOTEKNO
Penasihat Kebijakan AI Trump Resign dari Gedung Putih

Penasihat Kebijakan AI Trump Resign dari Gedung Putih

INTERNASIONAL
Alcatel-Lucent Ungkap Strategi Bangun Infrastruktur AI di Indonesia

Alcatel-Lucent Ungkap Strategi Bangun Infrastruktur AI di Indonesia

EKONOMI
Tren Lansia Perempuan di Jepang: Pilih Curhat ke AI Dibanding Manusia

Tren Lansia Perempuan di Jepang: Pilih Curhat ke AI Dibanding Manusia

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon