Demi Menyusui Buah Hati, Patricia pun Jadi Navigator dengan Travoy
Rabu, 22 April 2026 | 20:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bagi seorang ibu menyusui yang memiliki balita, perjalanan mudik bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Perjalanan pun menjadi rumit. Kenyamanan sang buah hati dan jadwal menyusui menjadi prioritas di atas segalanya.
Hal itulah yang dirasakan Patricia, seorang ibu tangguh yang membagikan kisahnya menaklukkan jalur utara Jawa saat momen Lebaran lalu.
Ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026), Patricia tampak antusias menceritakan pengalamannya. Sebagai perantau asal Majalengka, Jawa Barat, rutinitas pulang kampung bukanlah hal baru baginya. Namun, mudik kali ini terasa sangat berbeda dan penuh tantangan.
"Ini adalah pertama kalinya saya mudik membawa anak yang baru berusia 2 tahun. Biasanya dalam setahun bisa tiga sampai empat kali saya pulang ke Majalengka, tetapi perjalanan jauh kali ini butuh persiapan berkali-kali lipat lebih matang," tuturnya.

Meski sang suami sudah sangat fasih dengan rute tol, Patricia menyadari bahwa kondisi lalu lintas menjelang Idulfitri tidak bisa diprediksi hanya dengan hafalan rute. Kemacetan panjang dan sistem buka tutup di rest area sempat membuatnya khawatir, terutama terkait kebutuhan mendesak untuk menyusui, melakukan pumping, hingga mengganti popok.
"Kondisi jalan kemarin super macet. Saya sempat lihat berita, banyak rest area yang penuh sampai diberlakukan sistem buka tutup. Sebagai ibu menyusui, itu bikin was-was karena saya butuh tempat yang layak untuk istirahat sejenak," lanjutnya.
Di sinilah peran Patricia pun beralih menjadi asisten perjalanan alias navigator bagi suaminya. Berbekal aplikasi Travoy milik Jasa Marga yang sudah digunakan selama setahun terakhir, ia mengambil kendali informasi di dalam kabin mobil.
Bagi Patricia, fitur ketersediaan lahan parkir dan CCTV real time adalah penyelamat. Ia tidak lagi membiarkan suaminya menerka-nerka di mana mereka harus berhenti.
"Dalam aplikasi itu kita bisa lihat ketersediaan parkir di rest area, jadi bisa antisipasi. Waktu itu kami sempat berhenti di kilometer 57 untuk ganti popok anak karena dari aplikasi terlihat masih tersedia. Jadi kita enggak asal berhenti, tetapi benar-benar terencana," jelasnya.
Bahkan, keputusan kapan harus berangkat pun berada pada ujung jarinya. Dengan memantau CCTV pada aplikasi, Patricia bisa melihat kepadatan pada lokasi-lokasi krusial, seperti Tol MBZ. Jika terlihat padat merayap, ia dan keluarga memilih menunda keberangkatan hingga situasi melandai. Hal ini terbukti efektif menjaga mood sang buah hati tetap stabil selama perjalanan.
Kemudahan yang dirasakan Patricia memang menjadi fokus utama pengelola jalan tol. VP Corporate Secretary and Legal PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT), Ria Marlinda Paallo, menekankan bahwa ketersediaan informasi fasilitas laktasi dan ramah bayi adalah kunci utama perjalanan yang aman bagi keluarga.
"Informasi fasilitas seperti ruang laktasi dan kondisi rest area sangat membantu pengguna, khususnya ibu dengan anak kecil. Dengan informasi tersebut, pengguna dapat memilih titik istirahat yang lebih ramah keluarga sehingga perjalanan menjadi lebih nyaman dan terencana," ujar Ria saat dihubungi, Rabu (22/4/2026).
Ria juga menegaskan komitmen JTT ke depan untuk terus memperkuat fitur-fitur yang memberikan nilai tambah bagi pengguna jalan.
“Ke depan, JTT sebagai bagian dari PT Jasa Marga Persero Tbk akan terus mendukung pengembangan Travoy, terutama dalam peningkatan keandalan informasi real time serta layanan yang lebih inklusif,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




