Bambang Supriyanto

Pemahat Lokal dengan Prestasi Internasional

Sabtu, 20 Februari 2016 | 12:15 WIB
HA
B
Penulis: Heru Andriyanto | Editor: B1
Bambang Supriyanto (tengah) bersama para peserta International Snow Sculpture Contest di Sapporo, Jepang, 8 Feb. 2016.
Bambang Supriyanto (tengah) bersama para peserta International Snow Sculpture Contest di Sapporo, Jepang, 8 Feb. 2016. (Dokumentasi pribadi.)

Tangerang - Bambang Supriyanto memang tidak terkenal, tetapi karyanya menjadi pemandangan indah bagi ribuan orang setiap hari yang berkunjung ke pusat perbelanjaan atau melintasi perumahan mewah yang mendapat sentuhan seninya.

Di tangan pria kelahiran Demak, Jawa Tengah itu, nyaris semua bahan bisa diubahnya menjadi hasil pahatan berkelas, mulai dari styrofoam, serat kaca, logam, bahkan salju.

Benar, salju. Awal bulan ini dia bersama dua rekannya diundang oleh pemerintah Jepang untuk mewakili Indonesia mengikuti lomba tahunan patung salju internasional (International Snow Sculpture Contest) yang sudah berlangsung sejak 1950.

Patung "tsunami" yang masih dalam pembuatan oleh tiga seniman Indonesia di Sapporo, Jepang, 8 Feb. 2016.

Mereka bertiga membuat patung bertemakan tsunami, dengan ombak besar dan kapal pinisi yang menerjang. Dari 12 negara peserta, Bambang dan kawan-kawan mendapat juara ketiga.

Ini bukan hasil buruk, mengingat Indonesia bukan negara bersalju. Mereka harus berjuang melawan udara beku di kota Sapporo dalam puncak musim dingin, lebih berat dibandingkan misalnya peserta dari Finlandia yang sangat terbiasa dengan udara dingin.

"Saya ke sana dengan biaya sendiri, namun panitia menanggung sejumlah biaya akomodasi," kata Bambang saat ditemui di rumahnya di Tangerang, Sabtu (20/2).

Menurutnya, patung yang dia buat memiliki tingkat kesulitan yang tinggi dan detail yang sulit dengan banyak lengkungan, sehingga mendapat penilaian lebih dari panitia.

Sebagai Mata Pencaharian
Pria kelahiran 17 April 1973 ini mengakui bahwa dia hidup dari bakatnya tersebut. Sebagian besar karirnya dihabiskan bersama Ciputra Group di mana kebetulan pendirinya juga seorang pemerhati karya seni.

"Pak Ci (Ciputra) selalu memberikan sentuhan seni dalam setiap unit usahanya," kata Bambang.

Alhasil, karya Bambang banyak ditemui di pusat-pusat perbelanjaan dan perumahan yang bernaung di bawah Ciputra Group.

Setiap event tahunan seperti Natal, Lebaran atau Imlek, ornamen-ornamen indah buatan Bambang dan teman-temannya menghiasi mal-mal CitraLand. Demikian juga ketika ada peluncuran film animasi baru, Bambang sering mendapat order membuat miniatur tokoh-tokoh film tersebut.

Menurut Bambang, membuat model film animasi justru sangat sulit karena semua petunjuk yang dia dapat hanya dalam bentuk dua dimensi, sementara dia harus menerjemahkan ke bentuk tiga dimensi.

Tak semua orang bisa menggarap patung tokoh animasi, sehingga pihak studio Warner Bros penah menghubunginya secara khusus untuk meminta dibuatkan patung, kata Bambang.

Sejumlah perumahan elite Ciputra juga dihiasi patung-patung buatan Bambang, terutama patung kuda yang menjadi salah satu ciri khas Ciputra Group.

Patung kuda di CitraLand Botanical City karya Bambang Supriyanto.

Lebih Mandiri
Seiring perjalanan waktu, Bambang mulai melepas status sebagai karyawan agar lebih bebas berkreasi dengan mendirikan studio sendiri, Bang-Bank Art. Namun dia juga masih sering terlibat dengan proyek-proyek Ciputra.

Berbagai model pernah dibuatnya, dari patung, relief dinding bernuansa kekaisaran Tiongkok, tokoh-tokoh animasi seperti Po dalam Kung Fu Panda, sampai karya seni asli yang betul-betul curahan perasaannya.

Uniknya, kemampuan Bambang ini betul-betul berasal dari pengembangan bakat yang dia miliki, bukan dari jalur formal. Dia menyelesaikan pendidikan terakhir di jurusan pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Tidak semua proyeknya berjalan lancar, lebih karena klien yang tidak profesional.

Beberapa tahun lalu misalnya, sebuah partai politik meminta dia membuat rancangan backdrop panggung untuk kongres nasional. Dia mengajukan rencana lukisan panggung dan hiasan lain, namun proposal itu ditolak.

Ternyata, saat kongres itu muncul dalam pemberitaan televisi, Bambang melihat rancangan yang dia ajukan ditiru habis-habisan dengan digarap oleh pihak lain.

Dia juga kerap menghadapi masalah yang khas bagi para seniman mana pun, yaitu klien "sok tahu" dan suka memberi instruksi ini-itu yang justru mengurangi nilai artistik dan malah menyulitkan proses penggarapan.

Namun bagi bapak dua putri itu, hampir tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, terutama karena dia pernah memakai semua bahan yang mungkin untuk membuat patung.

Bambang juga acap kali melukis, meskipun tidak terlalu komersial seperti karya patungnya.

Relief dinding bernuansa kekaisaran Tiongkok.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon