ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Keseharian Jual Sayur dan Kayu Bakar

Rabu, 4 Februari 2026 | 12:24 WIB
AK
HH
Penulis: Albertus Pepi Kurniawan | Editor: HP
Lokasi kejadian siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YB berusia 10 tahun yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu.
Lokasi kejadian siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YB berusia 10 tahun yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara tragis bunuh diri. Ia tinggalkan surat perpisahan untuk ibu. (Beritasatu.com/Pepy)

Bajawa, Beritasatu.com - Pada usianya yang baru menginjak 10 tahun, YB sudah terbiasa memikul tanggung jawab layaknya orang dewasa. Bocah kelas IV sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, hingga kayu bakar demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Keseharian itulah yang melekat pada YBR sebelum ia ditemukan meninggal dunia dan diduga bunuh diri.

YB ditemukan tidak bernyawa di kebun milik neneknya yang berada di Karadhara, Dusun IV, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kamis (29/1/2026) sekitar pukul 11.00 Wita. Korban diketahui merupakan warga Kampung Boloji, Desa Wawowae, Kecamatan Bajawa.

Peristiwa tragis tersebut pertama kali diketahui oleh saksi berinisial KD (59) yang hendak mengikat hewan ternak di sekitar pondok kebun. Saat mendekat, saksi melihat YB sudah dalam kondisi meninggal dunia. Warga kemudian berdatangan dan menghubungi pihak kepolisian.

ADVERTISEMENT

Petugas Polres Ngada yang dipimpin KBO Sat Intelkam Iptu Thomas Aquino Mere langsung mendatangi lokasi kejadian. Polisi melakukan pengamanan tempat kejadian perkara (TKP), olah TKP, serta identifikasi oleh Unit Identifikasi Satreskrim Polres Ngada.

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya tali nilon, pakaian korban, serta selembar kertas berisi tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Bajawa yang diduga sebagai pesan perpisahan.

Jenazah YB selanjutnya dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan visum et repertum.

Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino melalui Kasi Humas Ipda Benediktus R Pissort mengatakan, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman dengan mengumpulkan keterangan saksi serta berkoordinasi dengan keluarga korban.

“Atas peristiwa ini, Polres Ngada menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban. Kami juga mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anak, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah,” ujarnya.

Duka keluarga semakin bertambah setelah ditemukan sepucuk surat yang diduga ditulis YB untuk ibunya. Surat singkat tersebut menggunakan bahasa daerah, tetapi sarat pesan perpisahan.

“Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dahulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya, Ma,” demikian isi surat tersebut dalam terjemahan Bahasa Indonesia.

YB diketahui tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2x3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.

Sejak berusia sekitar 1 tahun 7 bulan, YB diasuh oleh sang nenek. Ayahnya merantau ke Kalimantan lebih dari satu dekade lalu dan tidak pernah kembali. Sementara itu, ibu kandungnya hidup dalam kondisi ekonomi terbatas.

Selain bersekolah, YB membantu neneknya berjualan hasil kebun untuk menyambung hidup. Untuk kebutuhan makan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan apa yang ditanam dan dijual sendiri.

Menurut keterangan keluarga, YB dikenal sebagai anak pendiam, penurut, dan tidak pernah menunjukkan perilaku menyimpang. Keluhannya pun sederhana, sebatas kebutuhan sekolah seperti buku tulis dan pulpen.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur sang nenek lirih.

Ibu kandung korban, Maria Goreti Te’a (47) mengungkapkan, pada pagi hari sebelum kejadian, YB mengeluh pusing dan enggan berangkat sekolah. Namun, ia tetap mendorong anaknya masuk sekolah agar tidak tertinggal pelajaran.

Ia juga mengakui keluarga mereka tengah mengalami kesulitan ekonomi berat dan belum tersentuh bantuan sosial pemerintah, baik bantuan pendidikan, rumah layak huni, maupun bantuan ekonomi lainnya. Dari lima anak, hanya dua yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan.

Tragedi ini kembali menyoroti persoalan kemiskinan, ketimpangan akses pendidikan, serta pentingnya perlindungan sosial dan kesehatan mental anak di wilayah rentan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

NASIONAL
Sambangi Rumah Duka Murid di NTT, Kemendikdasmen Beri Santunan

Sambangi Rumah Duka Murid di NTT, Kemendikdasmen Beri Santunan

NASIONAL
Perbandingan Kemiskinan Kabupaten Ngada dengan Daerah Lain di NTT

Perbandingan Kemiskinan Kabupaten Ngada dengan Daerah Lain di NTT

NUSANTARA
Potret Sunyi Kemiskinan yang Menyisakan Luka di NTT

Potret Sunyi Kemiskinan yang Menyisakan Luka di NTT

NUSANTARA
KPPPA dan Polisi Dalami Penyebab Siswa SD Bunuh Diri di NTT

KPPPA dan Polisi Dalami Penyebab Siswa SD Bunuh Diri di NTT

NASIONAL
Ironi Kebijakan Negara di Balik Tragedi Anak SD NTT Bunuh Diri

Ironi Kebijakan Negara di Balik Tragedi Anak SD NTT Bunuh Diri

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon