2 Bulan Pascabanjir Aceh Tamiang, Warga Keluhkan Bantuan Minim
Rabu, 11 Februari 2026 | 12:03 WIB
Aceh Tamiang, Beritasatu.com - Dua bulan lebih pascabencana banjir dan longsor yang melanda Aceh Tamiang, kondisi para penyintas masih jauh dari kata pulih. Meski status tanggap darurat telah dicabut dan pemerintah mulai memasuki masa rehabilitasi, ratusan warga di Kecamatan Kota Lintang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi serba terbatas. Seiring berjalannya waktu, bantuan yang diterima warga pun kian menipis.
Potret kehidupan warga pascabencana di Kecamatan Kota Lintang, Kabupaten Aceh Tamiang masih memprihatinkan. Lorong-lorong desa masih dipenuhi lumpur dan tumpukan sampah sisa banjir. Sejumlah rumah warga terlihat rusak parah, sebagian bahkan terendam lumpur dan ditinggalkan pemiliknya karena tak lagi layak huni.
Salah seorang warga Kota Lintang Feri Hendriadi mengatakan kondisi rumah warga masih sama seperti awal terjadi bencana banjir bandang. Hingga saat ini belum ada alat berat yang mulai melakukan pembersihan di desa tempat ia tinggal itu.
"Rumah-rumah di sini belum di apa-apain, belum di Beko, masih berantakan," kata Feri, Rabu (11/2/2026).
Selain kondisi hunian yang belum tuntas, Feri juga menyebutkan keterbatasan akses air bersih menjadi persoalan utama di lokasi pengungsian. "Air bersih kami sudah tidak ada, air sumur sudah bau jangankan untuk makan minum, untuk cuci baju saja enggan kita pakai," tambahnya.
Saat ini, kata Feri ia dan sejumlah pengungsi lainnya terpaksa mengandalkan sumber air seadanya. Sementara sebagian besar masih tinggal di tenda-tenda darurat yang dibangun secara sederhana sejak bencana terjadi.
“Kondisi kami masih seperti ini. Air bersih masih susah, bantuan juga sudah tidak ada lagi," terangnya.
Kekurangan bantuan itu terus dirasakan pengungsi Kota Lintang, bahkan saat mereka mendatangi kantor Geuchik pun mereka tidak memperoleh bantuan apapun. "Bantuan sudah sangat kurang, kemarin ada, pergi ke kantor Datok (Geuchik) pun juga tidak ada," ungkapnya.
Meskipun saat ini masih bertahan di tenda, Feri berharap jelan Ramadan bantuan rumah segera ia terima mengingat cuaca yang tak menentu.
"Walaupun selama tinggal di tenda ini belum pernah hujan tetapi kita takut juga, kita belum tau kondisi tenda ini. Kalau seperti ini kondisi bagaimana air parit tidak tertutup, jangan sampai anak kita sakit-sakitan nanti," tutupnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, sejumlah relawan masih berupaya membersihkan fasilitas umum dan lingkungan desa. Namun, upaya ini dinilai belum cukup untuk memulihkan seluruh wilayah terdampak. Banyak kawasan masih membutuhkan penanganan lanjutan, terutama pengerahan alat berat untuk membersihkan material banjir dan longsor.
Sementara itu, Geuchik (Datok) Kota Lintang, Muhammad Fadil mengatakan daerah berdampak parah akibat banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.
“Desa kami banyak dihantam kayu balok dari atas gunung. Hampir lima ratus rumah warga terdampak akibat terjangan material kayu tersebut," kata Fadil.
Aparat desa menyebut bantuan dari relawan dan donatur saat ini semakin berkurang, diduga karena bencana dianggap telah lama berlalu. Padahal, kondisi warga di lapangan masih jauh dari pulih.
"Mungkin karena sudah dua bulan berlalu dan saya melihat bantuan sudah minim," ungkap Fadil.
Fadil berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah maupun pusat, terutama dalam penyediaan alat berat, pembangunan sumur bor dan tandon air bersih, serta pembersihan lorong-lorong desa yang hingga kini masih terisolasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




