ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Festival Bubur Suro di Pandeglang Meriahkan 10 Muharam

Minggu, 6 Juli 2025 | 22:43 WIB
B
BW
Penulis: Budiman | Editor: BW
Ibu-ibu di Desa Bandung, Pandeglang, memasak bubur suro dalam rangka peringatan 10 Muharam di Festival Bubur Suro, Minggu 6 Juli 2025.
Ibu-ibu di Desa Bandung, Pandeglang, memasak bubur suro dalam rangka peringatan 10 Muharam di Festival Bubur Suro, Minggu 6 Juli 2025. (Beritasatu.com/Budiman)

Pandeglang, Beritasatu.com — Warga Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Banten, menggelar Festival Bubur Suro, Minggu (6/7/2025), dalam rangka memperingati 10 Muharam dalam kalender Islam.

Festival yang menjadi warisan tradisi leluhur ini digelar setiap tahun dan menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat setempat. Acara ini berlangsung meriah dan penuh makna, dibalut dalam semangat doa dan kebudayaan lokal.

Pantauan Beritasatu.com di lokasi menunjukkan antusiasme tinggi dari warga, terutama para perempuan yang tampil mengenakan busana kebaya. Mereka bersama-sama memasak bubur Suro di wajan besar yang dipanaskan di atas tungku tradisional dalam saung bambu yang dihias dengan pelepah daun kelapa.

ADVERTISEMENT

Bubur suro dibuat dari beras, dicampur kacang-kacangan, sayuran, dan aneka lauk-pauk, yang menggambarkan kebersamaan dalam keberagaman bahan.

Salah satu warga, Indriani, menyampaikan bahwa tradisi bubur Suro di desanya berasal dari kisah Nabi Nuh AS, yang selamat dari banjir besar setelah berlayar selama 150 hari.

“Ngabubur suro ini diambil dari kisah Nabi Nuh AS, saat itu stok makanan habis, lalu mereka menggabungkan kacang-kacangan dan bumbu seadanya menjadi bubur Suro,” ujar Indriani.

Ia berharap tradisi ini terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal dan simbol persatuan warga Desa Bandung. “Sebagai umat Muslim, kita berpartisipasi dalam memperingati 10 Muharam dengan semangat kebersamaan dan doa,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi turut hadir dan mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menyebut bubur Suro sebagai bentuk rasa syukur masyarakat yang harus terus dilestarikan.

“Tradisi ini perlu digelorakan. Bubur Suro adalah bagian dari budaya lokal yang dibalut doa dan rasa syukur,” katanya.

Ia juga berharap agar desa-desa lain di Pandeglang ikut menjaga tradisi masing-masing sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dijaga untuk generasi mendatang. “Kalau setiap desa punya tradisi, mari kita budayakan. Ini kekayaan kita bersama,” tutupnya.


 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon