Ribuan Warga Baduy Tiba di Lebak, Puncak Seba Baduy 2026 Dimulai
Jumat, 24 April 2026 | 21:31 WIB
Rangkasbitung, Beritasatu.com — Ribuan warga Baduy Dalam dan Baduy Luar dari pedalaman Gunungkendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, tiba di Pendopo Bupati Lebak pada Jumat (24/4/2026) sore. Kedatangan mereka menjadi penanda puncak ritual tahunan Seba Baduy yang digelar pada malam hari.
Rombongan masyarakat adat disambut langsung oleh Bupati Lebak Amir Hamzah bersama jajaran pejabat daerah di kawasan Alun-alun Rangkasbitung. Suasana berlangsung hangat meski hujan sempat mengguyur wilayah tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 16.15 WIB, rombongan mulai memasuki pendopo didampingi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Yosep Holis, serta pengawalan aparat kepolisian dan TNI. Hujan tidak menyurutkan semangat mereka untuk menjalankan tradisi turun-temurun.
Dengan mengenakan pakaian adat khas --putih untuk Baduy Dalam dan biru tua untuk Baduy Luar-- mereka berjalan kaki tanpa alas sejauh sekitar 50 kilometer dari Desa Kanekes menuju Rangkasbitung. Perjalanan dimulai sejak dini hari sebagai bentuk ketaatan terhadap adat leluhur.
Kedatangan ini bertujuan bertemu Bupati Lebak Amir Hamzah yang secara adat disebut sebagai "Bapak Gede". Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian Seba Baduy sebagai simbol penghormatan kepada pemerintah.
Sebelum tiba di pendopo, rombongan sempat berkumpul di Terminal Aweh untuk menunggu kelompok lain. Selanjutnya, mereka dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Kantor Gubernur Banten pada keesokan hari.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, Yosep Holis, menyampaikan jumlah warga Baduy yang hadir mencapai lebih dari 1.500 orang.
"Dengan hormat, kami sampaikan kepada bapak bupati bahwa pada hari ini kita kedatangan saudara-saudara kita dari Kanekes, masyarakat Baduy, dengan jumlah sebanyak 1.552 orang. Dari jumlah tersebut, terdapat perwakilan yang hadir dalam rombongan ini. Kami memohon kiranya kehadiran mereka dapat diterima dengan baik," katanya.
Salah seorang warga Rangkasbitung, Mira (43), mengaku rutin menyaksikan tradisi ini setiap tahun bersama keluarganya.
"Ini tradisi tahunan yang sangat bagus karena melestarikan budaya. Lebak punya ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain. Bahkan tadi saya lihat banyak orang luar negeri yang ikut merekam," ujarnya.
Ia berharap tradisi ini tetap terjaga sebagai kekayaan budaya daerah. "Harapannya, tradisi ini tetap terjaga setiap tahun. Seba Baduy merupakan sesuatu yang tidak biasa dan tidak ditemukan di daerah lain. Perjalanan dengan jarak yang cukup jauh tanpa alas kaki menjadi ciri khas tersendiri. Karena itu, tradisi ini perlu terus kita lestarikan," pungkasnya.
Tradisi Seba Baduy merupakan ritual tahunan masyarakat adat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus bentuk ketaatan kepada pemerintah, yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




