Suryadi dan Anak-Istri Tinggal 15 Tahun dalam Gubuk Reyot di Lebak
Minggu, 26 April 2026 | 22:11 WIB
Rangkasbitung, Beritasatu.com - Kisah pilu dialami Suryadi (38), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten. Selama sekitar 15 tahun, ia bersama istri dan dua anaknya tinggal di sebuah gubuk reyot berukuran 3x4 meter yang kondisinya nyaris ambruk.
Rumah sederhana yang mereka tempati terbuat dari kayu dan anyaman bambu yang telah lapuk dimakan usia. Bangunannya tampak miring, bahkan sebagian sisi harus disangga menggunakan tiang agar tidak roboh. Saat hujan turun atau angin kencang menerpa, air dengan mudah masuk melalui atap yang bocor.
Kondisi ini membuat keluarga Suryadi hidup dalam kekhawatiran. Selain tidak nyaman, rumah tersebut juga berisiko roboh sewaktu-waktu.
Sehari-hari, Suryadi bekerja serabutan sebagai buruh tani di sawah dan kebun milik warga sekitar. Namun, penghasilannya sangat terbatas dan tidak menentu. Upah yang diterimanya kerap hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Untuk menambah pemasukan, Suryadi juga sesekali mencari kroto atau telur semut yang kemudian dijual. Dari hasil tersebut, ia bisa memperoleh sekitar Rp 30.000 untuk setiap dua ons kroto. Sementara jika mendapat pekerjaan sebagai buruh tani tambahan, ia menerima upah sekitar Rp 25.000 per hari.
“Biasanya Sabtu dan Minggu saya mencari kroto untuk dijual,” ujar Suryadi saat ditemui, Minggu (26/4/2026).
Keterbatasan fisik menjadi tantangan besar dalam hidupnya. Suryadi mengalami patah tulang punggung akibat jatuh dari pohon kecapi saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Cedera itu membuat kondisi fisiknya lemah dan sering merasakan nyeri sehingga tidak mampu bekerja secara maksimal.
“Bukan tidak mau merantau seperti orang lain ke Jakarta atau ke mana saja, tetapi saya tidak kuat. Fisik saya lemah sejak jatuh dari pohon waktu masih SD,” tuturnya.
Selama ini, bantuan yang diterima dari pemerintah baru sebatas sembako dan bantuan sesekali. Menurutnya, bantuan tersebut belum cukup untuk memperbaiki rumah yang sudah tidak layak huni. “Alhamdulillah ada bantuan, tetapi untuk membangun rumah tentu belum cukup,” katanya.
Suryadi mengaku telah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah melalui pemerintah desa. Namun, hingga kini, harapan tersebut belum juga terealisasi.
Meski hidup dalam keterbatasan, Suryadi tetap berjuang demi keluarganya. Ia berharap suatu hari bisa memiliki rumah yang layak, aman, dan nyaman untuk istri serta anak-anaknya.
“Harapan saya, semoga keluarga kami bisa memiliki rumah yang layak. Kasihan anak-anak, mereka kadang minder dengan teman-temannya, apalagi kalau hujan rumah selalu bocor,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Desa Sukarendah, Sunatra, menyebutkan terdapat sekitar 10 rumah tidak layak huni di wilayahnya. Kondisi rumah Suryadi menjadi salah satu yang paling memprihatinkan. “Yang paling parah adalah rumah milik Suryadi di Cipasung dan Sayuti di Galura,” ujarnya.
Menurut Sunatra, pemerintah desa telah beberapa kali mengajukan bantuan ke berbagai instansi, seperti dinas sosial, BPBD, hingga dinas perumahan dan permukiman. Namun, sampai saat ini, belum ada realisasi bantuan yang diterima.
Keterbatasan anggaran desa juga menjadi kendala utama. Sebagian besar anggaran saat ini dialokasikan untuk kebutuhan rutin sehingga belum memungkinkan untuk membiayai pembangunan rumah warga. “Harapan kami, pemerintah dan seluruh pihak terkait bisa segera memberikan bantuan, karena kondisinya memang sangat memprihatinkan,” tutup Sunatra.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




