ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sokong Pasar Modal, Emiten BUMN Cetak Laba Rp 76 Triliun

Rabu, 13 September 2023 | 10:09 WIB
ZR
WP
Penulis: Zsazya Senorita MC Ramadhani | Editor: WBP
Karyawati melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta.
Karyawati melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal)

Jakarta, Beritasatu.com - Sebanyak 12 perusahaan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (listed company), memiliki dampak besar terhadap dinamika pasar modal Indonesia, baik dari sisi kinerja maupun pergerakan saham di lantai bursa. Hingga semester I 2023, laba bersih 12 perusahaan pelat merah itu mencapai Rp 76,18 triliun atau turun 40,6% dari semester I 2022 sebesar Rp 127,53 triliun.

Berdasarkan catatan Investor Daily, 12 emiten BUMN membukukan pendapatan Rp 343,31 triliun pada paruh pertama tahun 2023 atau tumbuh 12,08% dibanding periode sama tahun lalu. Penurunan laba bersih 12 BUMN itu turun 40,26% menjadi Rp 76,18 triliun terutama dipicu perubahan laba bersih PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dari untung Rp 57,53 triliun menjadi rugi Rp 1,17 triliun.

"Untuk Garuda memang kasus khusus karena pada tahun 2022 masuk dalam laba luar biasa sebagai dampak dari restrukturisasi utang. Kalau kita kesampingkan dulu Garuda, laba BUMN masih tetap tumbuh," kata Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe kepada Investor Daily, Selasa (12/9/2023).

ADVERTISEMENT

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi emiten BUMN dengan laba terbesar yakni Rp 29,42 triliun, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 25,23 triliun, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 12,75 triliun, serta PT Bank BNI Tbk (BBNI) Rp 10,3 triliun.

Kinerja solid keempat emiten BUMN tersebut, berimbas positif ke pergerakan harga sahamnya di lantai bursa. "Pergerakan sahamnya atraktif, dengan saham bank besar itu tumbuh terus," ujar Kiswoyo.

Kiswoyo meyakini, saham Bank Mandiri (BMRI) berpeluang mencapai Rp 6.200, disusul BBRI dengan target Rp 5.800, dan BBNI Rp 10.500. Sementara TLKM bisa new high di Rp 5.000. "Saya percaya Telkom pasti akan naik, mereka sudah paham pasarnya seperti apa, dan berusaha mempertahankan pangsa pasar sebagai leader," ujar dia.

Senada, Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Robertus Hardy menyebutkan, kinerja sejumlah emiten BUMN dari sektor telekomunikasi masih jadi pilihan prospektif dibanding saham pelat merah lainnya.

"Ya case by case sektoralnya, tidak semua BUMN kontribusinya turun, ada juga yang meningkat. BUMN ada banyak sektor tetapi yang lebih positif dibanding lainnya yaitu di perbankan dan telekomunikasi," ujar Robert menjawab pertanyaan Investor Daily di Pacific Century Place, SCBD, Jakarta, Selasa (12/9/2023).

Secara spesifik, Mirae Asset menyarankan pemodal untuk memilih saham BUMN dari sektor yang memimpin seperti perbankan dan telekomunikasi. Mereka memberi peringkat overweight untuk saham BUMN sektor telekomunikasi seperti TLKM dan peringkat netral terhadap saham perbankan milik negara.

Namun dia tidak merekomendasikan saham BUMN karya yang merugi dan butuh penyelamatan. "Jadi kita tunggu perkembangannya saja seperti apa," tambah dia.

Mengutip data indeks BUMN 20 yang mencatat kinerja 20 saham BUMN, BUMND, serta afiliasinya, bobot saham perbankan dari sektor keuangan jadi yang paling besar di antara saham perusahaan pemerintah lainnya. Berdasarkan indeks tersebut, sektor keuangan pelat merah memiliki bobot 54,6% dalam IDXBUMN20, disusul sektor infrastruktur 21,2%, bahan baku 14,9%, dan energi 9,3%.

Hingga Juli 2023, saham BUMN keuangan memimpin pertumbuhan dengan 17,06% (ytd), disusul saham BUMN sektor bahan baku 1,43% (ytd). Sedangkan sektor infrastruktur dan energi terkoreksi, masing-masing 3,66% (ytd) dan 10,32% (ytd). Saham dengan bobot paling besar di IDXBUMN20 di antaranya meliputi, BBRI 16,98%, BBRI 16,76%, dan BBNI 14,09%.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon