ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

PSSI eksploitasi penonton

Kamis, 23 Desember 2010 | 17:40 WIB
DS
B
Penulis: Dyah Shinta | Editor: B1

Tiket pertandingan final Piala AFF termahal dalam sejarah penyelenggaraan pertandingan sepakbola Indonesia.

PSSI dinilai menyalahi prinsip-prinsip persaingan usaha dalam penjualan tiket pertandingan final Piala AFF. Kenaikan harga tiket pertandingan Indonesia melawan Malaysia yang akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno, pada 29 Desember mendatang merupakan bentuk eksploitasi oleh PSSI.
 
Menurut Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU),  Prof. Dr. Tresna P. Soemardi, PSSI telah memanfaatkan posisi penonton yang tidak memiliki kekuatan dan pilihan lain. Sebaliknya, PSSI sebagai penyelenggara memaksimalkan posisi monopolinya dengan menaikkan harga tiket pertandingan.
 
"[Sehingga] terdapat penyalahgunaan posisi dominan atau abuse of dominant position yang dilakukan oleh PSSI sebagai penyelenggara tunggal dan memiliki wewenang untuk membuat harga atau price maker," katanya dalam pernyataan persnya hari ini.
 
Tresna mengatakan, masyarakat, khususnya para suporter bola tidak memiliki kekuatan dan pilihan lain dalam pembelian tiket. Konsumen sebagai price taker menjadi sangat dirugikan dengan tidak adanya pilihan atau ketidakpastian harga tersebut. "Ini baru dugaan dilihat dari besarnya animo penonton dalam final, namun harga tiket mendadak naik," tambahnya.
 
Tiket termurah dalam pertandingan final mendatang adalah Rp 75 ribu, atau naik 50 persen dari pertandingan semula. Kenaikan harga tersebut dikeluhkan oleh para penggemar sepak bola yang ingin memberikan dukungan kepada timnas mereka. Tidak sedikit yang menuding PSSI semata-mata hanya mencari keuntungan dalam event tersebut.
 
Tresna menduga harga tiket dalam pertandingan final antara Indonesia vs Malaysia merupakan harga tiket termahal dalam sejarah penyelenggaran sepak bola di tanah air. "Setiap kenaikan harga yang terjadi, di mana konsumen tidak punya pilihan lain maka itu sudah menyalahi prinsip-prinsip persaingan. Dan tindakan ini mengarah pada penyalahgunaan posisi dominan," tambah Tresna.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon