Investor Asing Masih Minati Berinvestasi di RI
Selasa, 28 April 2015 | 19:37 WIB
Jakarta – Indonesia masih menjadi negara tujuan investasi yang menarik bagi investor asing. Beberapa faktor pendukung adalah jumlah populasi penduduk yang besar sekitar 251 juta jiwa, jumlah masyarakat kelas menengah yang besar dengan daya beli yang masih kuat, dan sumber daya alam pertambangan serta pertanian.
Demikian disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual dan Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk BNI Ryan Kiryanto, dalam wawancara ekslusif kepada Investor Daily, Senin (27/4). David mengatakan, Indonesia masih menjadi tempat tujuan investasi yang menarik karena banyak potensi di berbagai sektor yang belum dikembangkan secara optimal.
"Menurut saya, Indonesia masih menarik bagi investor asing, karena masih ada ruang untuk tumbuh. Sebagai contoh, kontribusi sektor proprerti di Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah dibandingkan negara-negara Asean dan Amerika Serikat," kata David.
Menurut David, dalam dua tahun terakhir pertumbuhan investasi, khususnya foreign direct investment (FDI) ke Indonesia cukup baik. Tahun lalu, FDI yang masuk tumbuh 13 persen mencapai Rp 300 triliun. Daya tarik investasi di Indonesia sebelum tahun 2013 umumnya di sektor komoditas. Sedangkan sektor-sektor yang menarik saat ini antara lain pertambangan, food and beverage (F&B), dan transportasi. Sektor food and beverage, ujar dia, didorong oleh kondisi demografi dan pertumbuhan jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia. Investor domestik juga melirik sektor F&B, transportasi, infrastruktur, dan kelistrikan.
Dia memperkirakan pertumbuhan FDI pada kuartal I-2015 masih lemah, karena para investor asing terutama investor asal Jepang dan Tiongkok masih wait and see mengenai implementasi komitmen pemerintah dalam hal pembangunan proyek-proyek infrastruktur.
Tren pertumbuhan FDI, kata David, akan terlihat mulai semester II-2015 dan pada saat itu pembangunan proyek infrastruktur yang dijanjikan pemerintah diharapkan dapat terlaksana. "Dorongan utama adalah dari government spending, terutama dalam hal pembangunan infrastruktur. Saya memperkirakan FDI tahun ini tumbuh baik sekitar 15 persen, dan total investasi tumbuh sekitar 18 persen," kata dia.
Sementara itu, Ryan Kiryanto menilai Indonesia memiliki beberapa faktor positif untuk menarik investor asing. Faktor-faktor tersebut adalah jumlah populasi yang besar sekitar 251 juta jiwa, jumlah masyarakat kelas menengah yang besar dengan daya beli yang masih kuat, dan sumber daya alam pertambangan serta pertanian.
"Selain itu, faktor positif lainnya adalah kebijakan ekonomi yang makin probisnis, dan adanya kestabilan di bidang sosial dan politik," kata Ryan.
Dia memperkirakan total investasi langsung ke Indonesia tahun ini sekitar Rp 450 triliun, dengan porsi penanaman modal asing (FDI) sekitar Rp 350 triliun. Sedangkan untuk total investasi tahun 2016 akan mencapai Rp 550 triliun.
Menurut Ryan, selama kuartal I-2015 hampir semua sektor ekonomi melambat yang disebabkan oleh pelemahan ekonomi dunia yang membuat permintaan ekspor turun dan menyeret harga komoditas. Perlambatan juga akibat dampak kebijakan moneter ketat yang membuat harga output produksi menjadi tidak kompetitif di pasar domestik dan regional.
Oleh karena itu, Ryan menjelaskan, solusi komprehensif dan koordinatif yang bisa dilakukan adalah pemerintah harus segera mempercepat serapan belanja infrastruktur. Di sektor moneter, Bank Indonesia (BI) secara bertahap harus berani melonggarkan kebijakan moneter seperti menurunkan BI rate, menurunkan rasio giro wajib minimum, serta merelaksasikan aturan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) dan loan to deposit ratio (LDR).
Dia menambahkan, pemerintah juga harus membenahi semua aturan hukum yang menjadi kendala aktivitas ekonomi, bisnis, dan investasi. "Jika semua itu bisa dibereskan, ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,3-5,5 persen. Tapi jika tidak bisa, ekonomi hanya akan tumbuh 4,8-5 persen tahun ini. Otomatis, semuanya akan berdampak pada kinerja perbankan, karena banks follow business/industry," jelas Ryan.
Investasi Asuransi
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Ahmad Fauzie Darwis menilai selama ini deposito memang selalu dominan dalam pola investasi asuransi umum. Sebab, instrumen tersebut memudahkan perusahaan memenuhi kewajibannya setiap saat jika terjadi klaim yang relatif besar.
"Kalau terjadi perpindahan dari deposito ke reksa dana, surat utang korporasi, maupun sukuk korporasi itu sangat tergantung kepada seberapa besar perusahaan asuransi punya dana untuk instrumen lain di luar deposito. Perpindahan portofolio harus tetap dalam koridor aman dan biasanya berbunga tetap," ujar dia kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (27/4).
Untuk investasi, Fauzie menyatakan, ketentuan asuransi umum diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 53 Tahun 2012. Dalam PMK tersebut, perusahaan asuransi hanya boleh berinvestasi di deposito maksimal 15 persen dari jumlah investasi yang diperkenankan dan maksimal 10 persen pada bank terafiliasi dengan perusahaan itu.
"Namun untuk deposito, tidak semua perusahaan asuransi menempatkan dana ke bank, karena suku bunga yang tinggi. Sebaliknya, penempatan deposito ke bank itu disebabkan oleh mutual benefit yang diharapkan, antara lain perusahaan asuransi mendapatkan bisnis dari bank," ungkap dia.
Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah (AASI) Adi Pramana menilai, kondisi pasar saham memang lagi baik dengan tren positif. Jadi wajar kalau memang menempati nomor satu pada Februari lalu. "Tetapi, kalau dibandingkan dengan posisi April ini, kemungkinan besar akan berbeda," ujar dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




