Neraca Perdagangan Surplus US$ 2,93 Miliar pada Mei 2024
Rabu, 19 Juni 2024 | 13:12 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami surplus sebesar US$ 2,93 miliar pada Mei 2024. Nilai surplus meningkat tipis US$ 210 juta dari posisi April 2024 dan meningkat US$ 2,5 miliar dari periode Mei 2023.
“Dengan demikian neraca perdagangan barang Indonesia telah mencatat surplus 49 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ucap Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah dalam konferensi pers secara hibrida di Kantor BPS pada Rabu (19/6/2024).
Dia mengatakan surplus neraca perdagangan Mei 2024 disokong oleh surplus komoditas nonmigas US$ 4,26 miliar dengan komoditas penyumbang surplus bahan bakar mineral, lemak, dan minyak hewan/nabati, serta besi dan baja.
Surplus neraca perdagangan nonmigas Mei 2024 lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu, tetapi lebih tinggi dibandingkan Mei 2023. Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas migas defisit US$ 1,33 miliar. Defisit neraca perdagangan migas Mei 2024 ini lebih rendah dari April 2024 dan Mei 2023.
"Komoditas penyumbang defisit neraca perdagangan migas adalah hasil minyak dan minyak mentah,” tutur Habibullah.
Negara penyumbang surplus terbesar adalah India, yakni sebesar US$ 1,55 miliar, Amerika Serikat sebesar US$ 1,2 miliar, dan Jepang sebesar US$ 742,2 juta.
Surplus terbesar yang dialami dengan India didorong komoditas bahan bakar mineral, logam mulia dan perhiasan, serta bijih logam terak dan abu. Pada saat yang sama tiga negara penyumbang defisit terdalam adalah Tiongkok, yakni sebesar US$ 1,3 miliar, Australia sebesar US$ 539,3 juta, dan Thailand sebesar US$ 320,2 juta.
“Defisit terdalam yang dialami dengan Tiongkok didorong oleh komoditas mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik,” pungkas Habibullah.
Secara kumulatif hingga Mei 2024 surplus neraca perdagangan barang Indonesia mencapai US$ 13,06 miliar atau mengalami penurunan US$ 3,41 miliar jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Defisit neraca perdagangan nonmigas kumulatif hingga Mei 2024 terjadi dengan Tiongkok, yaitu US$ 4,37 miliar,” kata Habibullah.
Bila diperinci secara kumulatif neraca perdagangan nonmigas mengalami surplus US$ 21,3 miliar sedangkan neraca perdagangan migas defisit US$ 8,07 miliar. Neraca perdagangan dan nonmigas mengalami penurunan secara kumulatif hingga Mei 2024 masing-masing sebesar US$ 230 juta dan US$ 3,19 miliar dibandingkan periode yang sama pada 2023.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




