ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Targetkan Surplus Solar, Bahlil Bakal Genjot Produksi Avtur Lokal

Selasa, 16 Desember 2025 | 13:04 WIB
CS
DM
Penulis: Celvin Moniaga Sipahutar | Editor: DM
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar mulai 2026. Hal tersebut seiring beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) Balikpapan yang dijadwalkan rampung pada Desember 2025.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar mulai 2026. Hal tersebut seiring beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) Balikpapan yang dijadwalkan rampung pada Desember 2025. (Beritasatu.com/Ricki Putra Harahap)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar mulai 2026. Hal tersebut seiring beroperasinya proyek refinery development master plan (RDMP) Balikpapan yang dijadwalkan rampung pada Desember 2025.

Bahlil menjelaskan, tambahan kapasitas produksi dari RDMP Balikpapan diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 barel per hari. Dengan tambahan tersebut, produksi solar nasional akan melampaui kebutuhan konsumsi dalam negeri.

“Jadi mulai tahun depan (2026) Indonesia tidak lagi melakukan impor solar karena antara konsumsi dan produksi kita sudah cukup,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/12/2025).

ADVERTISEMENT

Bahlil menambahkan, meskipun pemerintah belum sepenuhnya mendorong penerapan biodiesel B50, ketersediaan solar nasional dipastikan tetap berada dalam kondisi surplus.

Ia mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pemanfaatan surplus solar yang diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton untuk dikonversi menjadi aviation turbine fuel (avtur) sebagai bahan bakar pesawat terbang.

Saat ini, kebutuhan avtur nasional dipenuhi melalui produksi dalam negeri yang sebagian besar dilakukan oleh PT Pertamina (Persero), serta impor untuk menutup kekurangan pasokan. Dengan konversi surplus solar tersebut, ketergantungan terhadap impor avtur diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

“Pada 2026, insyaallah solar kita sudah clear, avtur-nya juga bisa kita produksi dalam negeri,” tutur Bahlil.

Namun demikian, Bahlil mengakui Indonesia masih harus mengimpor bensin karena produksi domestik belum mencukupi kebutuhan nasional. Untuk mengurangi ketergantungan impor, Kementerian ESDM mendorong percepatan pengembangan program etanol sebagai campuran bahan bakar.

“Kami menyarankan agar program etanol itu bisa kita jalankan dan bisa kita produksi pada 2027,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon