Apindo: Pertumbuhan Ekonomi Belum Sepenuhnya Ciptakan Lapangan Kerja
Kamis, 5 Februari 2026 | 07:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai penguatan reformasi struktural menjadi faktor utama untuk memperluas penciptaan lapangan kerja formal sekaligus meningkatkan kualitas ketenagakerjaan nasional.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengatakan tantangan ketenagakerjaan Indonesia saat ini bukan hanya soal pengangguran, tetapi juga besarnya jumlah pekerja informal dan kelompok rentan yang memerlukan solusi kebijakan jangka menengah hingga panjang.
“Pada 2025, kita memiliki sekitar 7,5 juta penganggur. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah 19 juta pekerja tanpa upah dan 31 juta pekerja mandiri yang hidup dalam kondisi rentan,” kata Shinta dilansir dari Antara.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi selama ini belum sepenuhnya mampu menciptakan lapangan kerja formal yang memadai. Kondisi tersebut mendorong tingginya pekerja informal serta pekerjaan rentan, terutama di sektor manufaktur yang dahulu menjadi penopang utama penciptaan kerja layak.
Menurut Shinta, jika seluruh kelompok tersebut digabungkan, terdapat sekitar 57,5 juta pekerja dalam kategori pekerjaan rapuh. Jika dihitung bersama anggota keluarganya, sekitar 180 juta penduduk Indonesia bergantung pada sumber penghidupan yang tidak stabil.
Ia menilai situasi ini mencerminkan persoalan struktural ketenagakerjaan, di mana penciptaan kerja formal belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja baru setiap tahun.
“Masalah utama kita saat ini adalah ketidakmampuan menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah memadai, sehingga tingkat pekerjaan informal terus meningkat dan kini mendekati 60%,” ujarnya.
Shinta mengungkapkan, dalam satu dekade terakhir perekonomian Indonesia rata-rata hanya mampu menyerap sekitar dua juta hingga 4,5 juta tenaga kerja per tahun. Sementara itu, tekanan dari pencari kerja baru dan pengangguran yang sudah ada mencapai sembilan juta hingga 12 juta orang per tahun.
Kesenjangan tersebut, lanjutnya, diperburuk oleh melemahnya peran sektor manufaktur sebagai penyedia kerja formal. Saat ini sekitar 64% tenaga kerja manufaktur justru berada dalam pekerjaan informal.
Selain itu, kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) juga terus menyusut dari kisaran 23%–24% pada periode sebelumnya menjadi sekitar 19%, seiring menurunnya daya saing industri domestik.
Dari sisi pasokan tenaga kerja, Apindo menyoroti rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja. Shinta memaparkan sekitar 36,5% tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan hingga sekolah dasar.
Survei Apindo terhadap lebih dari 2.000 perusahaan juga menunjukkan lebih dari 60% pelaku usaha menilai persoalan terbesar terletak pada rantai pasok talenta dan ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




