S&P Pertahankan Outlook Utang RI, tetapi Beri Catatan Soal Fiskal
Jumat, 6 Februari 2026 | 15:32 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Lembaga pemeringkat rating Moody’s menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, yang membuat pasar saham kehilangan sekitar US$ 120 miliar sejak awal tahun.
Moody’s menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif untuk ekonomi G20 senilai US$ 1,4 triliun, dengan alasan ketidakpastian dalam kebijakan pemerintah. Penurunan ini terjadi seminggu setelah MSCI menyoroti isu transparansi yang memicu gejolak pasar.
Lembaga pemeringkat tersebut juga menyinggung efektivitas kebijakan dan tanda-tanda melemahnya tata kelola, yang dapat menurunkan kredibilitas kebijakan Indonesia bila berlanjut.
“Penurunan outlook Moody’s adalah peringatan, yang bisa memicu lembaga pemeringkat lain untuk melakukan hal serupa, terutama jika sifat kebijakan pemerintah tetap tidak pasti,” kata ekonom OCBC, dikutip dari Reuters, Jumat (6/2/2026).
Peringkat Baa2 Moody’s menempatkan Indonesia pada tingkat investasi kedua terendah. Meski begitu, dua lembaga pemeringkat utama lainnya, S&P Global Ratings dan Fitch Ratings, saat ini menilai Indonesia memiliki outlook stabil dan belum melakukan review ulang.
“Volatilitas harga saham Indonesia baru-baru ini belum memengaruhi pandangan kami terhadap peringkat negara,” kata Rain Yin, analis sovereign S&P, melalui email kepada Reuters.
Namun, Yin memperingatkan, jika fiskal memburuk, tekanan turun terhadap peringkat S&P bisa meningkat bila tidak ada perbaikan. Fitch belum menanggapi permintaan komentar.
Investor internasional merespons hati-hati terhadap upaya Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8%, di tengah kekhawatiran mengenai kesehatan fiskal dan independensi bank sentral yang menurunkan sentimen pasar.
Upaya pemerintah melalui janji perubahan dan pengunduran diri lima pejabat tinggi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) gagal menstabilkan pasar. Investor asing tercatat sudah melepas saham senilai sekitar US$ 860 juta sejak Rabu pekan lalu, dibandingkan penjualan senilai US$ 1 miliar sepanjang 2025.
Sementara itu, obligasi dolar Indonesia tetap mendapat tekanan, meski sempat pulih sebagian dari penurunan pada Kamis. Yield obligasi acuan 10 tahun tercatat stabil di 6,317%, menurut data LSEG.
“Dampak utama terhadap pasar Indonesia adalah peningkatan premi risiko di seluruh kelas aset,” ujar Rully Arya Wisnubroto, analis pasar di Mirae Asset Sekuritas Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




