ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bitcoin Anjlok Hampir 50 Persen Dinilai Bukan Tanda Krisis Besar

Minggu, 8 Februari 2026 | 07:02 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Ilustasi Bitcoin
Ilustasi Bitcoin (Freepik/frimufilms)

Jakarta, Beritasatu.com – Penurunan tajam harga Bitcoin hingga hampir 50% dari rekor tertinggi sepanjang masa kembali memicu perdebatan soal stabilitas aset kripto tersebut. Namun, investor Hedge Fund Gary Bode menilai pelemahan ini merupakan bagian dari karakter volatilitas Bitcoin dan bukan tanda krisis besar.

Pada akhir Januari 2026, pasar kripto dan logam mulia sempat anjlok setelah Trump menunjuk Kevin Warsh sebagai ketua The Fed berikutnya. Penunjukan tersebut memicu ekspektasi bahwa neraca The Fed akan diperkecil yang berpotensi menekan permintaan terhadap Bitcoin.

Harga aset digital sempat turun hingga 20% pada Kamis (5/2/2026) sebelum kembali rebound pada Jumat (6/2/2026). Bitcoin bahkan sempat merosot ke bawah US$ 61.000, level terendah sejak sebulan sebelum pemilu AS. Padahal Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$ 126.000 pada awal Oktober 2025.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari Coindesk, Minggu (8/2/2026), Bode menyebut penurunan harga terbaru memang terasa berat bagi investor. Namun, kondisi tersebut bukan hal yang luar biasa dalam sejarah Bitcoin.

“Penurunan hingga 80%–90% itu hal yang umum. Mereka yang bersedia menahan volatilitas yang sebenarnya selalu bersifat sementara, pada akhirnya mendapatkan imbal hasil jangka panjang yang luar biasa," tulis Bode.

Menurut Bode, gejolak terbaru dipicu reaksi pasar terhadap pencalonan Kevin Warsh pengganti Jerome Powell sebagai ketua The Fed. Investor menilai langkah tersebut sebagai sinyal kebijakan moneter yang lebih ketat, termasuk potensi kenaikan suku bunga.

Kondisi itu membuat aset tanpa imbal hasil, seperti Bitcoin, emas, dan perak menjadi kurang menarik. Selain itu, margin call pada posisi leverage turut memperparah penurunan harga akibat aksi jual paksa.

Namun, Bode tidak sepakat dengan interpretasi pasar tersebut. Ia mengutip pernyataan publik Warsh yang mendukung suku bunga lebih rendah, serta catatan Donald Trump yang menyebut Warsh berjanji akan menurunkan suku bunga acuan.

“Saya pikir pasar salah membaca situasi ini,” katanya.

Teori lain menyebutkan bahwa para “whale” atau pemegang awal Bitcoin menjual kepemilikannya. Bode mengakui adanya aktivitas dompet besar dan aksi ambil untung, tetapi ia menilai hal itu bukan sinyal pelemahan jangka panjang.

“Kemampuan teknis para pengadopsi awal dan penambang layak diapresiasi. Itu tidak berarti bahwa penjualan mereka (baik sebagian maupun seluruhnya) memberi tahu kita banyak tentang masa depan Bitcoin," lanjutnya.

Faktor lain adalah meningkatnya instrumen keuangan, seperti exchange-traded funds (ETF) dan derivatif yang melacak harga Bitcoin tanpa kepemilikan koin secara langsung. Instrumen ini sering disebut sebagai “paper Bitcoin”.

Meski meningkatkan suplai efektif untuk perdagangan, instrumen tersebut tidak mengubah batas maksimal pasokan Bitcoin sebesar 21 juta koin. Menurut Bode, batas pasokan ini tetap menjadi jangkar utama nilai jangka panjang.

Bode menilai, penurunan harga saat ini merupakan konsekuensi alami dari desain Bitcoin yang memang volatil. Menurutnya, fluktuasi harga yang tajam tidak selalu menjadi sinyal risiko sistemik. Investor yang mampu bertahan menghadapi volatilitas justru berpotensi memperoleh imbal hasil signifikan dalam jangka panjang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Bitcoin mulai Rebound Seusai Sentuh Level US$ 60.000

Bitcoin mulai Rebound Seusai Sentuh Level US$ 60.000

EKONOMI
Bitcoin Anjlok ke Bawah US$ 80.000, Kekhawatiran Likuiditas Meningkat

Bitcoin Anjlok ke Bawah US$ 80.000, Kekhawatiran Likuiditas Meningkat

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon