Upaya BI Jaga Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi lewat Suku Bunga
Jumat, 20 Februari 2026 | 05:52 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI rate di level 4,75%. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap sebesar 3,75% dan lending facility berada di 5,50%.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan, keputusan tersebut sejalan dengan arah kebijakan moneter yang saat ini difokuskan pada penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
“Rapat dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 4,75%,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (19/2/2026).
Menurut Perry, langkah mempertahankan suku bunga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari dinamika ekonomi global dan domestik, perkembangan sektor moneter, stabilitas sistem keuangan, hingga kondisi sistem pembayaran.
Kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran serta menopang momentum pertumbuhan ekonomi. Ia menambahkan, BI akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh sebelumnya agar dampaknya lebih terasa pada sektor riil.
Ke depan, bank sentral tetap membuka ruang penyesuaian suku bunga apabila kondisi memungkinkan. Hal itu sejalan dengan proyeksi inflasi 2026–2027 yang diperkirakan berada dalam kisaran target 2,5% plus minus 1%.
Dari sisi makroprudensial, BI memastikan kebijakan tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan ke sektor-sektor prioritas. Upaya tersebut ditempuh antara lain melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mempercepat penurunan suku bunga kredit perbankan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Pada bidang sistem pembayaran, BI terus memperluas akseptasi pembayaran digital, memperkuat struktur industri, serta meningkatkan keandalan dan ketahanan infrastruktur guna mendukung aktivitas ekonomi.
Inflasi Sedikit di Atas Target
BI menilai lonjakan inflasi yang sempat melampaui target pada awal 2026 bersifat sementara.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman menyampaikan inflasi yang tercermin dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55% secara year on year.
Angka tersebut sedikit melampaui batas atas target inflasi BI yang berada dalam rentang 1,5%–3,5%.“Jadi sedikit di atas target inflasi kita 3%. Tetapi ini sifatnya sementara,” ujar Aida dalam konferensi pers RDG BI.
Aida menjelaskan, tekanan inflasi pada awal tahun terutama dipicu dampak lanjutan kebijakan diskon tarif listrik yang diberikan pada Januari–Februari 2025. Efek komponen administered prices tersebut masih memengaruhi perhitungan inflasi hingga Januari dan Februari 2026, bahkan diperkirakan berlanjut sampai Maret 2026.
Secara umum, inflasi nasional hingga Maret 2026 diproyeksikan masih berada di atas 3%. Namun demikian, BI meyakini tekanan harga tetap terkendali, termasuk menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




