Inflasi Hampir 5 Persen, Purbaya: Ekonomi Belum Mengalami Overheating
Rabu, 11 Maret 2026 | 18:44 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah memastikan inflasi Indonesia masih terkendali menjelang Idulfitri 2026 meskipun secara angka terlihat meningkat.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Y Sadewa menjelaskan kenaikan inflasi pada Februari 2026 sebagian besar dipengaruhi faktor teknis atau low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025.
Berdasarkan data, inflasi pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% secara tahunan (year on year). Namun angka tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan tekanan inflasi yang sebenarnya.
“Tanpa pengaruh diskon listrik, inflasi Februari diperkirakan hanya 2,59%,” kata Menkeu Purbaya Y Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurut Purbaya, perbedaan persepsi sering muncul karena sebagian pihak hanya melihat angka inflasi secara keseluruhan tanpa memperhitungkan faktor dasar pembanding dari tahun sebelumnya. Padahal secara fundamental tekanan harga masih berada dalam batas aman.
“Kalau angka yang sebetulnya, tadi saya bilang 2,59%, kita masih di target, bahkan di bawah target. Artinya ruang bagi ekonomi untuk tumbuh lebih cepat terbuka lebar tanpa harus memicu inflasi,” ujarnya.
Purbaya juga menjelaskan inflasi inti masih relatif rendah. Inflasi inti nonemas tercatat sekitar 1,4%, sementara kenaikan inflasi inti secara keseluruhan dipengaruhi meningkatnya harga emas dan permintaan masyarakat selama Ramadan.
Ia menegaskan kondisi tersebut menunjukkan perekonomian domestik belum mengalami overheating meskipun aktivitas ekonomi mulai menguat. “Jadi kita tumbuhnya belum terlalu cepat dan belum kepanasan,” kata Purbaya.
Sementara itu, kenaikan inflasi pangan pada periode tersebut lebih banyak dipicu faktor cuaca serta meningkatnya permintaan terhadap beberapa komoditas seperti daging ayam, ikan segar, dan cabai. Meski demikian, inflasi pangan masih berada pada level moderat di bawah 5%.
Di tengah dinamika global, pemerintah tetap menjaga stabilitas harga melalui peran APBN sebagai peredam gejolak ekonomi. Kebijakan fiskal tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.
“Secara keseluruhan dampak kenaikan harga komoditas termasuk minyak mentah akan tetap dikelola oleh pemerintah melalui peran APBN sebagai shock absorber sehingga daya beli terjaga,” ujar Purbaya.
Purbaya menambahkan stabilitas inflasi memberikan ruang bagi ekonomi nasional untuk terus tumbuh lebih kuat pada 2026. Pemerintah menilai momentum pemulihan ekonomi masih terjaga di tengah ketidakpastian global.
“Jadi teman-teman enggak usah takut kita bisa mengendalikan dampak negatif dengan baik ke depan. Kenapa? Karena posisi kita sekarang dari posisi yang kuat,” kata Purbaya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




