ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Jadi Pendorong Penguatan Rupiah Hari Ini

Senin, 20 April 2026 | 10:30 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Ilustrasi rupiah dan dolar AS.
Ilustrasi rupiah dan dolar AS. (Antara/Rivan Awal Lingga)

Jakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Senin (20/4/2026) pagi. Mata uang Garuda naik 16 poin atau 0,09% ke posisi Rp 17.173 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah didorong oleh kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi dianggap dapat mengurangi beban anggaran pendapatan belanja negara),” ujarnya dikutip dari Antara.

ADVERTISEMENT

Kenaikan harga tersebut dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) terhadap sejumlah produk BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex sejak Sabtu (18/4/2026).

Untuk wilayah Jakarta, harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp 19.400 per liter dari sebelumnya Rp 13.100 per liter. Sementara Dexlite meningkat menjadi Rp 23.600 per liter dari Rp 14.200, dan Pertamina Dex naik ke Rp 23.900 per liter dari Rp 14.500. Penyesuaian harga juga terjadi di berbagai daerah lainnya.

Pertamina menjelaskan, perubahan harga BBM tersebut mengacu pada formula harga dasar sesuai ketentuan Keputusan Menteri ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merupakan revisi dari regulasi sebelumnya.

Namun, tekanan eksternal masih membayangi pergerakan rupiah. Ketidakpastian terkait kondisi Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang memberi sentimen negatif di pasar.

Laporan dari Anadolu Agency menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan kawasan tersebut masih berada dalam kendali militer, menyusul ketegangan dengan Amerika Serikat.

IRGC juga menekankan bahwa situasi di Selat Hormuz akan tetap diawasi ketat hingga kebebasan pelayaran ke dan dari Iran dipulihkan sepenuhnya.

“Investor juga masih cenderung wait and see hasil perundingan AS-Iran pada hari Senin dan RDG BI (rapat dewan gubernur Bank Indonesia) pada hari Rabu (22/2/2026). Namun untuk perundingan Iran-AS belum bisa dipastikan terjadi, masih simpang siur,” ungkap Lukman.

Ia menambahkan, pasar juga menanti hasil rapat Bank Indonesia yang diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan. Meski begitu, peluang kenaikan suku bunga masih terbuka melihat tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

“Namun mencermati pelemahan rupiah belakangan ini, saya melihat ada potensi suku bunga dinaikkan,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

BI Bali Tegaskan Transaksi Turis Wajib Pakai Rupiah

BI Bali Tegaskan Transaksi Turis Wajib Pakai Rupiah

EKONOMI
BI Rate Masih Bisa Naik jika Rupiah Terus Tertekan

BI Rate Masih Bisa Naik jika Rupiah Terus Tertekan

EKONOMI
Pedagang Daging di Magelang Ungkap Alasan Mogok Berdagang Hari Ini

Pedagang Daging di Magelang Ungkap Alasan Mogok Berdagang Hari Ini

JAWA TENGAH
BI Sebut Rupiah Terus Menguat Pascakenaikan Suku Bunga

BI Sebut Rupiah Terus Menguat Pascakenaikan Suku Bunga

EKONOMI
Dolar AS Menguat, Pemilik Bengkel di Blitar Naikkan Harga Suku Cadang

Dolar AS Menguat, Pemilik Bengkel di Blitar Naikkan Harga Suku Cadang

JAWA TIMUR
Gubernur BI Proyeksi Rupiah 2027 Menguat ke Level Rp 16.800-Rp 17.500

Gubernur BI Proyeksi Rupiah 2027 Menguat ke Level Rp 16.800-Rp 17.500

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon