ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kendalikan Dampak Ekonomi, Pemerintah Pilih Kebijakan Selektif dalam Penyesuaian Harga BBM

Senin, 20 April 2026 | 22:09 WIB
YM
YM
Penulis: Yurike Metriani | Editor: YM
SPBU Signature yang berada di kawasan Pondok Indah, Jakarta.
SPBU Signature yang berada di kawasan Pondok Indah, Jakarta. (Pertamina/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Di tengah kenaikan tajam harga BBM jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional dengan tidak menaikkan harga Pertamax dan Pertamax Green 95. Strategi ini dinilai jitu untuk mencegah lonjakan inflasi yang dipicu oleh biaya transportasi.

Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menilai langkah menahan harga Pertamax RON 92 adalah keputusan tepat karena jumlah penggunanya yang sangat besar. 

"BBM nonsubsidi yang masih ditahan harganya adalah Pertamax, mengingat kebutuhan penggunanya jauh lebih besar dibanding Pertamax Turbo. Tentu ini akan membawa konsekuensi ke biaya kompensasi. Namun mengingat daya beli kelas menengah yang stagnan, maka opsi menahan di harga sekarang sudah tepat," ujar Eko.

ADVERTISEMENT

Keputusan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex akan berpengaruh positif bagi keuangan Pertamina. Dari data INDEF, tingkat konsumsi Pertamax Turbo mencapai 832 kilo liter (KL) per hari, sementara Pertamina Dex sebesar 1.113 KL per hari.

 Baca Juga: Rekind Hadirkan Solusi Dekarbonisasi untuk PLTU

“Dengan gap yang cukup lebar dari harga keekonomian (sebelum kenaikan ini) maka jika BBM nonsubsidi ini naik, beban kompensasi yang harus disediakan Pertamina akan turun, walau pada akhirnya kompensasi ini akan diganti (dibayar) pemerintah namun ini berkaitan dengan cash flow Pertamina,” pungkasnya. 

Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia, Tulus Abadi, menyebut ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah yang mencapai 60% dari konsumsi harian membuat harga domestik sangat sensitif terhadap dinamika global. Selama kenaikan harga dibarengi dengan keadilan bagi publik, masyarakat diharapkan memahami bahwa BBM nonsubsidi merupakan komoditas yang harganya fluktuatif mengikuti pasar global. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan energi nasional.

Penyesuaian harga BBM di Indonesia tergolong lebih lambat dibandingkan negara lain. Sejak Maret 2026, sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, India, Filipina, hingga negara-negara di kawasan Eropa telah lebih dulu menaikkan harga BBM akibat kenaikan harga minyak mentah dunia. Indonesia baru melakukan penyesuaian pada pertengahan April, yang menunjukkan adanya upaya pemerintah menahan tekanan harga.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pertamina Peringkat Tiga Fortune Southeast Asia 500

Pertamina Peringkat Tiga Fortune Southeast Asia 500

EKONOMI
Pertamina Berkah, Tebar Kebahagiaan untuk 17.300 Anak Yatim dan Dhuafa di Seluruh Indonesia

Pertamina Berkah, Tebar Kebahagiaan untuk 17.300 Anak Yatim dan Dhuafa di Seluruh Indonesia

EKONOMI
Dari Minyak Jelantah hingga Limbah Makanan, Inovasi Perwira Pertamina Bawa Dampak Nyata di APQ Awards 2026

Dari Minyak Jelantah hingga Limbah Makanan, Inovasi Perwira Pertamina Bawa Dampak Nyata di APQ Awards 2026

EKONOMI
Apa Itu B50? Biodiesel Baru yang Meluncur 1 Juli 2026

Apa Itu B50? Biodiesel Baru yang Meluncur 1 Juli 2026

EKONOMI
Sudah ke Jakarta Fair? Yuk Dukung UMKM Lokal di Bright Store by Pertamina

Sudah ke Jakarta Fair? Yuk Dukung UMKM Lokal di Bright Store by Pertamina

EKONOMI
Patra Logistik Salurkan hingga 2,5 Juta Liter BBM per Hari untuk Dukung Kebutuhan Energi Malang Raya

Patra Logistik Salurkan hingga 2,5 Juta Liter BBM per Hari untuk Dukung Kebutuhan Energi Malang Raya

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon