Indonesia Stop Impor Solar 5 Juta Ton lewat Program B50
Selasa, 21 April 2026 | 01:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut penerapan biodiesel B50 atau campuran 50% minyak sawit dengan 50% solar akan memberikan dampak besar bagi perekonomian nasional, termasuk menekan impor solar.
Program B50 dijadwalkan mulai berjalan pada 1 Juli 2026. Dengan implementasi tersebut, Indonesia ditargetkan tidak lagi mengimpor sekitar 5 juta ton solar pada tahun ini.
"B50 ini kolaborasi dengan Pak Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia), 1 Juli jalan, dan target kita tahun ini tidak impor solar 5 juta ton. Yang pertama pangan aman, protein sudah aman, solar tidak impor 5 juta ton tahun ini," kata Amran di kantor Kementerian Pertanian, Senin (20/4/2026).
Selain mengurangi impor energi, kebijakan ini juga dinilai berdampak positif terhadap sektor perkebunan, khususnya kelapa sawit. Amran mengungkapkan, sebagian crude palm oil (CPO) dialihkan untuk kebutuhan biofuel, yang turut mendorong kenaikan harga sawit global.
Dari total ekspor sekitar 26 juta ton, sebanyak 5,3 juta ton CPO dialokasikan untuk program B50.
"Ekspor kita 26 juta (ton), kita tarik 5,3 juta menjadi biofuel, tentu harga dunia naik. Begitu harga dunia naik, petani tambah giat untuk bekerja, akhirnya produktivitasnya naik. Kami tidak pernah prediksi naik 6 juta ton. Gapki sudah lapor, dan itu kebanggaan kita," tutur Amran.
Pemerintah menegaskan, kebijakan ini tidak mengganggu pasokan minyak goreng dalam negeri. Menurut Amran, alokasi bahan baku untuk energi dan konsumsi masyarakat telah dipisahkan.
Ia bahkan menyoroti adanya potensi permainan harga di tengah kondisi pasokan yang melimpah.
“Beras melimpah, minyak goreng melimpah, tetapi harga naik. Berarti apa? Ada mafia di tengahnya,” tegasnya.
Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, Indonesia menguasai sekitar 60% pasar global. Meski sebagian produksi dialihkan untuk biofuel, ekspor tetap meningkat dari sekitar 26 juta ton menjadi 32 juta ton.
“Ini ekspor kita dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton. Banyak kan? 32 juta ton. Berarti bahan baku melimpah. Jadi tidak seharusnya harga naik,” ujar mentan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




