Rupiah Melemah, Purbaya: Bukan Cerminan Ekonomi RI
Jumat, 24 April 2026 | 19:38 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.300 per dolar AS tidak mencerminkan penurunan kinerja ekonomi domestik.
Ia menjelaskan, pergerakan rupiah lebih merupakan ranah otoritas moneter. Sementara, pemerintah berfokus menjaga stabilitas dan fondasi ekonomi nasional.
“Yang pertama tentang rupiah. Anda harus tanya bank sentral. Nanti kalau saya ngomong susah, tetapi kita silakan nih ke pengelola-pengelolanya, regulatornya yang kita anggap mampu untuk menjelaskan,” kata Purbaya di Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, pelemahan nilai tukar tidak disebabkan oleh melemahnya ekonomi dalam negeri. Secara fundamental, kondisi ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat dibandingkan negara lain di kawasan.
“Untuk saya sih ini bukan tanda pemburukan yang dipicu oleh ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand, dan lain-lain masih kuat,” katanya.
Namun, ia mengakui pergerakan mata uang tiap negara memiliki karakteristik berbeda. Dalam periode yang sama, beberapa mata uang, seperti Malaysia dan Thailand justru mengalami penguatan terhadap dolar AS.
“Cuma gerakan nilai tukarnya beda kan. Anda lihat Malaysia menguat, Thailand menguat terhadap dolar. Relatifnya dari awal tahun sampai sekarang,” jelasnya.
Purbaya menambahkan, faktor teknis serta dinamika global turut memengaruhi fluktuasi nilai tukar, sehingga penjelasan lebih rinci sebaiknya disampaikan oleh bank sentral.
“Sebaiknya, coba Anda tanya ke bank sentral kenapa seperti itu. Mungkin saya bukan ahlinya di sini,” ujarnya.
Namun, ia memastikan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap solid dan bahkan berpotensi semakin kuat seiring upaya pemerintah memperbaiki berbagai hambatan struktural.
“Namun yang jelas adalah fondasi ekonomi kita tidak berubah. Bahkan akan semakin cepat. Karena kita akan semakin serius perbaikan kendala-kendala di perekonomian,” tegasnya.
Ia juga menyinggung adanya persepsi negatif yang berkembang seolah-olah ekonomi Indonesia akan memburuk dalam waktu dekat. Menurutnya, pandangan tersebut tidak sesuai dengan kondisi riil.
“Terus ini juga terjadikan noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju pemburukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan 3 bulan waktu itu kan, berarti 2 bulan lagi. Juni, Juli, tetapi keadaannya enggak seperti itu,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




