Update Harga Emas Dunia: Turun Tertekan Dolar AS
Kamis, 18 Juni 2026 | 19:42 WIB
New York, Beritasatu.com – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2026) setelah dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan Federal Reserve (The Fed) mengirimkan sinyal kebijakan moneter yang lebih hawkish.
Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.245,99 per troy ons. Penurunan ini melanjutkan koreksi pada perdagangan sebelumnya ketika emas merosot 1,7%. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS turun lebih tajam, yakni 2,6% ke level US$ 4.265,50 per troy ons.
Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 1% menjadi US$ 67,29 per troy ons. Harga platinum terkoreksi 2,1% ke level US$ 1.701,02 per troy ons, sedangkan paladium melemah 2,6% menjadi US$ 1.277,79 per troy ons.
Tekanan terhadap emas muncul setelah indeks dolar AS menguat sekitar 0,7%. Penguatan dolar membuat harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Pada pertemuan yang digelar Rabu (17/6/2026), The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, para pembuat kebijakan memperkirakan masih terdapat peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini seiring kekhawatiran inflasi yang tetap berada di atas target bank sentral.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga mengumumkan pembentukan sejumlah satuan tugas untuk mengevaluasi berbagai aspek operasional bank sentral AS.
Kepala Analis Pasar Bybit, Han Tan, menilai sikap hawkish The Fed meningkatkan risiko penurunan harga emas dalam jangka menengah.
"The Fed yang hawkish membuat harga emas spot memiliki kecenderungan lebih besar untuk kembali turun ke bawah US$ 4.000 dibandingkan menembus level US$ 5.000 pada paruh kedua 2026," ujar Tan.
Menurut dia, evaluasi terhadap pola komunikasi The Fed juga berpotensi membuat harga emas lebih sensitif terhadap setiap rilis data ekonomi AS ke depan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 mencapai 88%.
Sementara itu, ANZ dalam risetnya menyebut permintaan investasi terhadap emas masih relatif lemah. Hal tersebut tercermin dari arus keluar dana pada produk exchange-traded fund (ETF) emas dan posisi investasi yang lebih ringan.
Meski demikian, ANZ menilai pasar emas masih ditopang oleh permintaan fisik yang kuat, terutama dari China, serta pembelian berkelanjutan oleh bank sentral dunia.
Perhatian investor juga tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah. AS dan Iran telah merilis teks kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua presiden untuk mengakhiri konflik antara kedua negara.
Namun, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan apabila Iran tidak mematuhi komitmen yang telah disepakati dalam perjanjian tersebut.
Ketidakpastian geopolitik tersebut masih berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas sebagai aset safe haven dalam beberapa waktu ke depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




