Bahlil Tinjau Program Listrik Gratis untuk Desa yang Masih Gelap
Jumat, 19 Juni 2026 | 21:37 WIB
Purworejo, Beritasatu.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia meninjau langsung pelaksanaan program listrik desa (Lisdes) dan bantuan pasang baru listrik (BPBL) gratis di Dusun Krembeng, Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses listrik hingga ke wilayah pelosok yang selama ini belum terjangkau jaringan listrik negara.
Salah satu penerima manfaat, Markamah (53), yang sehari-hari bekerja sebagai penganyam bambu, mengaku bersyukur akhirnya dapat menikmati listrik secara mandiri di rumahnya.
Ia menuturkan, selama bertahun-tahun warga Dusun Krembeng hanya mengandalkan sentir atau pelita sebagai penerangan pada malam hari. Sebagian warga lainnya bahkan harus menyambung listrik dari dusun tetangga.
“Tentu senang sekali, semoga bermanfaat bagi warga semuanya yang menerima. Belum mau beli apa-apa dulu, yang penting lampu dulu nyala,” ujar Markamah.
Dalam kesempatan itu, Bahlil menegaskan bahwa pemerataan listrik merupakan amanat Presiden sebagai bentuk kehadiran negara bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Yang pertama memang arahan Bapak Presiden adalah kewajiban pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur listrik. Kita tahu bahwa di bangsa kita, 80 tahun Indonesia merdeka, masih ada 5.700 desa yang belum ada listrik dan sekitar 4.400 dusun. Jadi masih ada lebih dari 10.000 titik yang harus kita selesaikan,” kata Bahlil.
Menurutnya, tantangan terbesar elektrifikasi nasional adalah letak desa-desa yang jauh dari akses gardu induk dan jaringan utama PLN. Kondisi tersebut membuat pembangunan jaringan sering kali tidak layak secara bisnis.
“Seperti di sini, kalau PLN pasang secara hitung-hitungan bisnis sebenarnya rugi. Pemakainya hanya 44 rumah, tetapi PLN harus membangun jaringan sepanjang 1,78 kilometer untuk masuk ke dusun ini. Secara bisnis memang tidak masuk, tetapi negara harus hadir,” tegasnya.
Bahlil menekankan bahwa persoalan listrik bukan sekadar biaya, tetapi juga soal akses dan pelayanan yang setara bagi masyarakat.
Ia juga mengaku memiliki kedekatan emosional dengan kondisi masyarakat yang belum menikmati listrik karena dirinya lahir dan besar di kampung tanpa akses listrik.
“Saya mantan anak kampung yang lahir tanpa listrik, jadi saya tahu kesedihan mereka. Bagaimana orang bisa sekolah pintar, bagaimana bisa akses informasi dengan cepat, bagaimana anak-anak SD bisa belajar dengan baik kalau tidak ada akses digitalisasi. Ini infrastruktur dasar yang wajib kita bangun,” ujarnya.
Bahlil menjelaskan, program Lisdes terdiri atas dua skema utama, yakni pembangunan infrastruktur jaringan listrik dan pemasangan listrik gratis melalui program BPBL.
“Ini untuk menyelesaikan program 2025, jadi sekarang tinggal peresmian-peresmian saja. Sementara untuk 2026, kita sedang inventarisasi lagi semuanya untuk bisa kita eksekusi sampai 2027,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




