ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Presiden Inginkan Budi Daya Berbasis Lingkungan

Rabu, 1 November 2017 | 21:25 WIB
B
YD
Penulis: BeritaSatu | Editor: YUD
Presiden Joko Widodo (Jokowi) membagikan surat izin pemanfaatan hutan kepada puluhan warga di pesisir pantai Muara Gembong, Bekasi, Jawa barat.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) membagikan surat izin pemanfaatan hutan kepada puluhan warga di pesisir pantai Muara Gembong, Bekasi, Jawa barat. (beritasatu tv)

Jakarta - Presiden Joko Widodo menginginkan usaha budi daya ikan dan udang yang dilakukan dalam rangka program Perhutanan Sosial selalu berbasis lingkungan sehingga dapat dikelola secara berkelanjutan.

"Pak Presiden sampaikan bahwa usaha budi daya ini harus berbasis lingkungan, makanya kami cobakan nantinya untuk lahan budi daya 50 persen dan lahan untuk mangrove 50 persen," kata Dirjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto di Jakarta, Rabu (1/11).

Menurut Slamet, mangrove merupakan reservoir alami yang paling baik untuk menetralisir limbah buangan tambak serta penyedia makanan alami bagi ikan dan udang.

Slamet ikut mendampingi Presiden Jokowi yang melakukan kunjungan kerja ke lahan tambak di Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Rabu.

ADVERTISEMENT

Dalam kunjungan tersebut, Presiden melakukan penanaman mangrove serta melepas setidaknya 200 ribu benih udang vaname untuk satu petak tambak, serta menekan tombol untuk menghidupkan kincir sekaligus menandai beroperasinya unit kawasan budi daya udang vaname program Perhutanan Sosial seluas 17,2 hektare.

Presiden mengatakan dengan usaha rintisan budi daya ikan ini, Indonesia memiliki sebuah bisnis model yang baru dan akan menjadi rujukan model di daerah lain, bukan hanya pada bidang perikanan budi daya, tetapi juga akan diterapkan pada usaha holtikultura, padi, dan komoditas lainnya.

Presiden juga mengapresiasi penggunaan inovasi teknolodi dalam bisnis model budidaya udang tersebut, serta akan mendorong pola serupa serta terus mengedukasi penerapan teknologi budidaya modern.

Saat ini, Indonesia masih menjadi eksportir udang nomor tiga dunia. Presiden meyakini bila model budi daya udang itu dapat diterapkan di semua daerah, Indonesia pasti menjadi eksportir udang nomor satu dunia.

Dirjen Perikanan Budi Daya KKP Slamet Soebjakto menyebutkan, pemerintah setidaknya akan melakukan redistribusi pengelolaan kawasan seluas 830 hektare untuk pengembangan pertambakan ikan/udang, dari total lahan di Muara Gembong yang mencapai 11.000 hektare.

Program rintisan untuk lahan tambak 17,2 hektare ini diharapkan memberi dampak terhadap peningkatan produksi udang dan bandeng sebanyak 204 ton per tahun, dengan nlai ekonomi yang diperkirakan bisa mencapai hingga sekitar Rp16,3 miliar per tahun.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon