Krisis Eropa Hambat Kinerja Bursa Domestik
Senin, 16 Juli 2012 | 15:32 WIB
Hingga Jumat (13/7), IHSG baru bertumbuh sebanyak 5,17 persen dibanding penutupan akhir tahun 2011
Pasar modal menjadi salah satu sektor yang paling kena dampak krisis Eropa. Disamping membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi fluktuatif, kekhawatiran pun merambat pada calon perusahaan tercatat (emiten) baru, yang mengurangi porsi pelepasan saham perdana atau bahkan menundanya.
Hingga Jumat (13/7), IHSG baru bertumbuh sebanyak 5,17 persen dibanding penutupan akhir tahun 2011, atau masih jauh dari proyeksi kalangan analis yang diprediksikan bisa mencapai 15 persen sampai 20 persen ditahun ini.
Sementara dari sisi emisi saham perdana, hingga pertengahan Juli 2012 tercatat baru senilai Rp5,62 triliun. Jumlah tersebut termasuk 7 emiten yang mencatatkan sahamnya ditahun 2012, yakni TOBA sebesar Rp400,29 miliar, KOBX Rp109 miliar, MSKY Rp2,147 triliun, GLOB Rp127 miliar, ALTO Rp63 miliar, GAMA Rp420 miliar, dan BJTM Rp1,28 triliun, sehingga total emisi ketujuh calon emiten ini sebesar Rp4,55 triliun.
Jika ditotal, emisi dari 13 emiten yang melakukan listing perdana di sepanjang 2012 sampai dengan saat ini baru sebesar Rp5,62 triliun. Jumlah tersebut masih jauh dari realisasi total emisi 25 emiten sebesar Rp19,62 triliun.
Bahkan, tiga emiten terakhir yang mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Kobexindo Tractors Tbk, PT Toba Bara Sejahtera Tbk dan PT BPD Jawa Timur Tbk terpaksa mengurangi porsi saham yang dilepasnya.
Kobexindo memangkas jumlah saham yang dilepasnya menjadi 12 persen dari sebelumnya 30 persen. Sementara Toba Bara menggerus rencana penawaran saham perdananya menjadi 10,5 persen dari opsi semula sebanyak 30 persen, dan BPD Jatim hanya melepas 20 persen sahamnya dari proyeksi sebanyak 25 persen.
Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen mengatakan, itu merupakan bagian dari strategi perusahaan tercatat dan pelaksana penjamin emisi. "Mungkin saja dia memang butuh dananya sebesar itu, kan mereka melihat kebutuhan dana juga, selain situasi pasar," ungkapnya beberapa waktu lalu.
Meski tidak sebesar di negara lain, krisis Eropa diakui memberikan dampak terhadap perkembangan pasar modal nasional. Namun, otoritas pasar modal yakin itu hanya sementara, dan dalam jangka panjang kinerja bursa domestik masih positif, walaupun fluktuatif.
Pasar modal menjadi salah satu sektor yang paling kena dampak krisis Eropa. Disamping membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi fluktuatif, kekhawatiran pun merambat pada calon perusahaan tercatat (emiten) baru, yang mengurangi porsi pelepasan saham perdana atau bahkan menundanya.
Hingga Jumat (13/7), IHSG baru bertumbuh sebanyak 5,17 persen dibanding penutupan akhir tahun 2011, atau masih jauh dari proyeksi kalangan analis yang diprediksikan bisa mencapai 15 persen sampai 20 persen ditahun ini.
Sementara dari sisi emisi saham perdana, hingga pertengahan Juli 2012 tercatat baru senilai Rp5,62 triliun. Jumlah tersebut termasuk 7 emiten yang mencatatkan sahamnya ditahun 2012, yakni TOBA sebesar Rp400,29 miliar, KOBX Rp109 miliar, MSKY Rp2,147 triliun, GLOB Rp127 miliar, ALTO Rp63 miliar, GAMA Rp420 miliar, dan BJTM Rp1,28 triliun, sehingga total emisi ketujuh calon emiten ini sebesar Rp4,55 triliun.
Jika ditotal, emisi dari 13 emiten yang melakukan listing perdana di sepanjang 2012 sampai dengan saat ini baru sebesar Rp5,62 triliun. Jumlah tersebut masih jauh dari realisasi total emisi 25 emiten sebesar Rp19,62 triliun.
Bahkan, tiga emiten terakhir yang mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Kobexindo Tractors Tbk, PT Toba Bara Sejahtera Tbk dan PT BPD Jawa Timur Tbk terpaksa mengurangi porsi saham yang dilepasnya.
Kobexindo memangkas jumlah saham yang dilepasnya menjadi 12 persen dari sebelumnya 30 persen. Sementara Toba Bara menggerus rencana penawaran saham perdananya menjadi 10,5 persen dari opsi semula sebanyak 30 persen, dan BPD Jatim hanya melepas 20 persen sahamnya dari proyeksi sebanyak 25 persen.
Direktur Penilaian Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen mengatakan, itu merupakan bagian dari strategi perusahaan tercatat dan pelaksana penjamin emisi. "Mungkin saja dia memang butuh dananya sebesar itu, kan mereka melihat kebutuhan dana juga, selain situasi pasar," ungkapnya beberapa waktu lalu.
Meski tidak sebesar di negara lain, krisis Eropa diakui memberikan dampak terhadap perkembangan pasar modal nasional. Namun, otoritas pasar modal yakin itu hanya sementara, dan dalam jangka panjang kinerja bursa domestik masih positif, walaupun fluktuatif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
HUKUM & HANKAM
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
SUMATERA SELATAN
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




