AS Klaim Serangan ke Situs Nuklir Iran Bukan untuk Ganti Rezim
Senin, 23 Juni 2025 | 07:50 WIB
Washington, Beritasatu.com — Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menegaskan bahwa serangan militer terhadap situs nuklir Iran bukanlah awal dari upaya perubahan rezim. Dalam pernyataannya pada Minggu (22/6/2025), Hegseth menyebut Washington telah mengirim pesan langsung ke Teheran untuk mendorong negosiasi.
Serangan yang diberi nama operasi Midnight Hammer dilakukan secara rahasia, dengan hanya segelintir pejabat di Washington dan markas militer AS di Timur Tengah, Tampa, Florida, yang mengetahui misi ini.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengungkapkan bahwa tujuh pesawat pengebom B-2 terbang selama 18 jam dari AS ke Iran untuk menjatuhkan 14 bom penghancur bunker.
"Misi ini bukan dan tidak akan pernah bertujuan untuk mengubah rezim," ujar Pete Hegseth.
"Presiden mengesahkan operasi presisi untuk menetralisir ancaman terhadap kepentingan nasional kita yang ditimbulkan oleh program nuklir Iran," lanjutnya.
Caine menambahkan, penilaian awal menunjukkan bahwa ketiga target mengalami kerusakan berat. Namun, ia enggan berspekulasi apakah kemampuan nuklir Iran sepenuhnya hancur.
Secara keseluruhan, AS meluncurkan 75 amunisi berpemandu presisi, termasuk lebih dari dua lusin rudal Tomahawk, dan melibatkan lebih dari 125 pesawat tempur dalam operasi terhadap tiga situs nuklir utama Iran.
Serangan besar ini mendorong kawasan Timur Tengah mendekati potensi konflik besar baru, di tengah ketegangan berkepanjangan akibat perang di Gaza, Lebanon, serta konflik di Suriah.
Sebagai respons, Teheran meluncurkan serangkaian rudal ke Israel, melukai sejumlah warga dan merusak bangunan di Tel Aviv. Namun, Iran hingga kini belum menjalankan ancaman balasannya yang ditujukan pada pangkalan AS atau pengiriman minyak dunia yang melewati Selat Hormuz.
"Pasukan kami tetap dalam keadaan siaga tinggi dan siap sepenuhnya untuk menanggapi serangan balasan Iran atau serangan proksi, yang akan menjadi pilihan yang sangat buruk," kata Caine.
Amerika Serikat saat ini memiliki hampir 40.000 personel militer di Timur Tengah, dilengkapi sistem pertahanan udara, pesawat tempur, dan kapal perang. Militer AS telah memindahkan beberapa aset strategis, termasuk pesawat dari Pangkalan Al Udeid di Qatar dan kapal dari pelabuhan di Bahrain, sebagai langkah preventif menghadapi serangan.
Dengan keputusan mengebom situs nuklir Iran, Presiden Donald Trump akhirnya melakukan sesuatu yang selama ini berusaha dihindarinya, yaitu campur tangan langsung dalam perang besar asing, bersama serangan udara Israel terhadap musuh bebuyutannya di kawasan tersebut.
Trump menyatakan bahwa Iran kini harus memilih antara berdamai atau menghadapi serangan berikutnya. Tindakan ini berpotensi memicu Teheran untuk menutup Selat Hormuz atau mengaktifkan kelompok proksi untuk menyerang kepentingan AS dan Israel secara global.
Parlemen Iran telah menyetujui penutupan Selat Hormuz, titik vital perdagangan minyak dunia, tetapi keputusan akhir masih menunggu otoritas keamanan tertinggi negara itu, menurut laporan Press TV.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyerukan agar China menekan Iran untuk tidak menutup jalur perairan strategis tersebut.
Hegseth menyatakan bahwa anggota parlemen AS baru diberi informasi setelah pesawat militer meninggalkan wilayah udara Iran. Ia kembali menekankan bahwa serangan tersebut bukan tindakan terbuka. "Seperti yang telah diarahkan dan diperjelas oleh presiden, ini tentu saja bukan tindakan yang terbuka," ungkapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




