AS Akui Uranium Iran Masih Utuh, Lokasinya Belum Diketahui
Senin, 23 Juni 2025 | 18:33 WIB
Washington, Beritasatu.com — Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat JD Vance mengungkapkan bahwa cadangan uranium yang diperkaya milik Iran masih utuh pasca serangan udara Amerika Serikat. Namun, hingga kini keberadaannya tidak diketahui secara pasti.
Dalam wawancaranya di program This Week yang tayang di ABC pada Minggu (22/6/2025), JD Vance menyatakan bahwa sejumlah besar uranium yang diperkaya milik Iran tidak hancur dan tetap berada di bawah kendali Teheran, meskipun fasilitas pengayaan telah menjadi target serangan.
"Dalam beberapa minggu mendatang, kami akan melihat apa yang dapat kami lakukan dengan bahan bakar nuklir itu, dan itu adalah salah satu hal yang akan kami bahas dengan Iran," ujar Vance ketika ditanya apakah persediaan uranium tersebut telah sepenuhnya dihancurkan.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Amerika Serikat belum mengetahui pasti di mana Iran menyimpan uranium tersebut. Kendati demikian, Vance menegaskan bahwa Iran kini tidak lagi memiliki peralatan penting untuk memperkaya uranium hingga tingkat senjata, tujuan utama dari serangan udara tersebut.
"Presiden Trump tadi malam memerintahkan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium hingga tingkat senjata," tambah Vance.
Menurut dua pejabat Israel yang memiliki akses ke intelijen, Iran telah memindahkan sebagian besar peralatan dan uranium dari fasilitas pengayaan di Fordow beberapa hari sebelum lokasi tersebut dibom oleh AS pada 22 Juni 2025. Penilaian awal Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebutkan bahwa fasilitas Fordow mengalami kerusakan berat, meski tidak sepenuhnya hancur.
Bukti awal menunjukkan bahwa sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen dipindahkan oleh Iran ke lokasi rahasia menjelang serangan udara, sebagai respons terhadap ancaman militer dari Presiden AS Donald Trump. Untuk dijadikan senjata nuklir, uranium harus diperkaya hingga 90 persen, ditambah dengan penguasaan teknologi canggih lainnya.
Sebelum serangan, uranium tersebut disimpan di fasilitas Fordow dan kompleks nuklir Isfahan. Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Mariano Grossi, mengungkapkan bahwa inspektur terakhir kali melihat keberadaan uranium sekitar seminggu sebelum Israel melancarkan serangan pada 13 Juni.
"Iran tidak menyembunyikan bahwa mereka melindungi bahan bakar nuklir ini," kata Grossi.
Ketika ditanya apakah uranium telah dipindahkan, ia menjawab, "Itulah yang saya maksud," katanya.
Sumber dari pemerintahan AS mengatakan bahwa tidak semua peralatan berhasil dipindahkan dari Fordow, termasuk sentrifugal besar yang digunakan untuk memperkaya uranium. Ada kemungkinan dokumen penting terkait program nuklir Iran masih tersimpan di fasilitas tersebut, yang kini rusak sebagian dan menyulitkan upaya rekonstruksi.
Hingga kini belum diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan Iran untuk memperbaiki fasilitas nuklir yang telah rusak. Sebagian laporan menyebut Iran telah membangun fasilitas bawah tanah baru sebagai pengganti kompleks Natanz, yang sebelumnya juga rusak berat akibat serangan udara Israel. Namun, pejabat Iran menyatakan bahwa fasilitas tersebut belum beroperasi dan belum bisa diakses oleh inspektur IAEA.
Iran secara konsisten membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, komentar dari Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belakangan ini menunjukkan keyakinan bahwa Iran masih meneruskan program senjata nuklir, meskipun belum ada bukti konkret yang diungkapkan ke publik.
Konflik yang berlangsung beberapa pekan terakhir serta serangkaian serangan udara dapat memperkuat keyakinan para pemimpin Iran bahwa senjata nuklir dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi negara.
Sementara itu, pejabat Iran menegaskan bahwa semua bentuk inspeksi internasional telah ditangguhkan selama konflik berlangsung. Kalaupun inspeksi dilanjutkan, belum jelas apakah para inspektur IAEA akan mendapatkan akses langsung ke fasilitas Fordow dan Natanz yang menjadi sorotan dunia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




